“Jakarta peringkat 71 kota global.”
“Terus?”
Maya menunjuk trotoar di depan mereka.
“Kalau gue tetap harus turun ke jalan karena trotoarnya ketutup, ranking itu ngaruh apa?”
Reno tertawa.
Mereka sedang melakukan eksperimen sederhana.
Satu hari keliling Jakarta tanpa kendaraan pribadi.
Naik MRT.
Bus.
Jalan.
Makan.
Kerja dari ruang publik.
Pulang malam.
Reno bekerja di bidang riset urban.
Maya bekerja di marketing.
Dua perspektif.
Pemerintah Jakarta memang sedang mengejar posisi lebih tinggi sebagai kota global. Portal resmi Pemprov menyebut posisi Jakarta dalam Global Cities Index naik dari peringkat 74 pada 2024 menjadi 71 pada 2025, dengan target jangka panjang masuk 20 besar kota global pada 2045.
Itu ambisi besar.
Tapi Maya punya ukuran lain.
“Gue mau tes kota global dari tinggi badan manusia.”
Bukan dari skyline.
Trotoar adalah dashboard pertama
Mereka mulai dari stasiun.
Bagian pertama nyaman.
Lebar.
Ada pohon.
Guiding block.
Lalu menyempit karena utility box.
Maya berkata:
“Ini pengalaman yang nggak masuk foto drone.”
Trotoar menjawab banyak pertanyaan sekaligus.
Apakah kota memprioritaskan pejalan kaki?
Apakah disabilitas dipikirkan?
Apakah lansia aman?
Apakah orang bisa transit tanpa naik kendaraan lagi?
Apakah street frontage hidup?
Kota global selalu punya narasi investasi.
Trotoar menunjukkan siapa yang benar-benar diberi ruang.
Trotoar bagus tapi tidak tersambung tetap gagal
Seratus meter bagus.
Lalu putus.
Mereka harus menyeberang tanpa crossing yang nyaman.
Reno berkata:
“Network effect.”
Maya menjawab:
“Bahasa normalnya?”
“Trotoar cuma berguna kalau nyambung.”
Exactly.
Kualitas pedestrian bukan proyek spot.
Ia jaringan.
Seperti internet.
Satu bagian cepat tidak berarti seluruh koneksi bagus.
Rasuna Said menunjukkan perubahan fisik bisa terjadi cepat
Pada 2026, kawasan Rasuna Said ditata setelah tiang monorel lama dibongkar. Pemprov membenahi ruas jalan, drainase, trotoar, area hijau, street furniture, penerangan, dan elemen pedestrian.
Maya berjalan di sana.
“Lebih enak.”
Reno mengangguk.
“Sekarang pertanyaannya maintenance.”
Peresmian adalah hari pertama.
Kota global diuji tahun kedua.
Lampu masih menyala?
Ubin masih rata?
Pohon hidup?
Trotoar tidak berubah jadi parkir?
Maintenance adalah bentuk paling tidak glamor dari modernitas.
Transportasi publik harus menang dari kendaraan pribadi pada total experience
Mereka naik bus.
Maya berkata:
“Kalau naik mobil 50 menit, naik umum 75, gue pilih mobil kalau lagi capek.”
Reno tidak membantah.
Pemerintah menyebut konektivitas transportasi publik Jakarta sudah sekitar 92 persen pada awal 2026, tetapi penggunaan masih sekitar 25 sampai 26 persen.
Gap itu penting.
Infrastruktur tersedia lebih luas.
Perilaku belum ikut sepenuhnya.
Untuk mengubah pilihan, transport publik harus kompetitif dalam:
waktu,
kenyamanan,
reliability,
harga,
keamanan,
dan last mile.
Konektivitas bukan ridership
Maya berkata:
“Jadi 92 persen itu orangnya naik?”
“Bukan. Itu konteks jangkauan/konektivitas yang disebut pemerintah.”
“Yang naik?”
“Masih jauh lebih rendah.”
Dua indikator jangan dicampur.
Kota bisa punya jaringan dekat banyak warga.
Tetapi warga tetap memilih motor atau mobil.
Kenapa?
Transit terlalu lama.
Harus ganti.
Bawa anak.
Bawa barang.
Shift malam.
Cuaca.
Last mile.
Parkir kantor gratis.
Behavior lahir dari ekosistem.
Udara adalah ranking yang tubuh rasakan
Siang terasa panas.
Maya membuka aplikasi kualitas udara.
“Kalau buruk, kota globalnya ditunda?”
Reno tertawa.
Kualitas udara adalah isu serius Jakarta.
Pemerintah menjalankan pemantauan, uji emisi, kebijakan transportasi, penghijauan, dan berbagai strategi pengendalian pencemaran.
Tapi tubuh warga tetap menjadi sensor utama.
Mata perih.
Batuk.
Anak tidak boleh main terlalu lama.
Olahraga dipindah indoor.
Kota global yang ekonominya kuat tapi udaranya sering buruk punya contradiction besar.
Kebijakan udara harus lintas batas
Polusi tidak berhenti di batas administrasi.
Kendaraan datang dari Jabodetabek.
Aktivitas industri berada lintas wilayah.
Angin bergerak.
Karena itu, Jakarta tidak bisa menyelesaikan udara sendirian.
Konsep aglomerasi menjadi relevan.
Transport lintas kota.
Standar emisi.
Energi.
Industri.
Semua saling terkait.
Biaya hidup adalah indikator global yang paling personal
Mereka makan siang.
Maya melihat menu.
“Ini juga global.”
Reno tertawa.
Jakarta sebagai pusat ekonomi menarik pekerjaan, investasi, hiburan, pendidikan, dan bisnis.
Semakin menarik kota, tekanan harga bisa naik.
Sewa.
Makan.
Transport.
Sekolah.
Hiburan.
Jasa.
Kota global punya risiko menjadi kota yang sukses dikunjungi tapi sulit ditinggali.
Kota harus bisa dihuni pekerja biasa
Bayangkan:
perawat.
guru.
barista.
security.
staf retail.
petugas kebersihan.
pegawai junior.
kurir.
Kalau semuanya harus tinggal sangat jauh karena harga hunian dekat pusat terlalu tinggi, kota menghasilkan perjalanan panjang.
Transportasi publik membantu.
Tapi housing affordability tetap penting.
Reno berkata:
“Global city yang semua pekerjanya commute dua jam punya masalah struktural.”
Maya mengangguk.
Hunian vertikal dekat transit perlu masuk diskusi
Jakarta sudah mendorong hunian vertikal, rusun, TOD, dan berbagai skema perumahan.
Tapi supply harus cocok dengan kebutuhan.
Harga.
Sewa.
Ukuran keluarga.
Lokasi.
Akses sekolah.
Status pekerjaan.
Kota global tidak cukup punya apartemen mewah di dekat stasiun.
Ia perlu spektrum hunian.
Third place menentukan apakah kota bisa dinikmati tanpa belanja besar
Maya punya meeting dua jam lagi.
Mereka butuh tempat duduk.
Pilihan paling mudah:
mal.
Kafe.
“Kenapa ruang publik nggak bisa jadi opsi normal?”
Reno menunjuk taman.
“Bisa kalau ada shade, toilet, WiFi, dan aman.”
Third place publik mengurangi biaya sosial.
Orang bisa bertemu tanpa harus membeli minuman Rp50 ribu.
Bagi kota mahal, itu signifikan.
Ruang publik adalah social infrastructure
Taman bukan sekadar tanaman.
Perpustakaan bukan hanya buku.
Plaza bukan sekadar paving.
Semua memberi ruang:
bertemu,
istirahat,
belajar,
menunggu,
mengasuh anak,
bekerja,
berkomunitas.
Kota global perlu tempat non-komersial.
Kalau semua aktivitas sosial harus bayar, kota makin eksklusif.
Kota global tidak boleh menghapus identitas lokal
Maya berkata:
“Kalau semua kawasan jadi glass building, Jakarta jadi kayak kota lain.”
Reno mengangguk.
Budaya Betawi.
Kampung.
Pasar.
Kuliner.
Bahasa.
Arsitektur.
Ritme lokal.
Semua adalah differentiation.
Global bukan berarti generik.
Kota yang kuat justru bisa terhubung dunia tanpa kehilangan karakter.
Kampung harus masuk definisi kota global
Banyak warga Jakarta hidup di kampung kota.
Gang.
Rumah rapat.
Warung.
Mushola.
Bengkel.
Laundry.
Ekonomi mikro.
Kalau standar kota global hanya boulevard dan CBD, mayoritas realitas Jakarta hilang.
Kampung perlu:
drainase,
air,
sanitasi,
akses darurat,
ruang bermain,
pengelolaan sampah,
legal certainty.
Modernisasi tidak harus berarti menghapus.
Transport malam adalah ujian kota 24 jam
Maya selesai meeting pukul 22.15.
Rute pulang masih tersedia.
Tapi frekuensi berkurang.
Last mile lebih mahal.
Reno berkata:
“Pekerja shift ngerasain kota beda.”
Kota global beroperasi lebih panjang dari jam kantor.
Rumah sakit.
Logistik.
Bandara.
Restoran.
Keamanan.
Media.
Hiburan.
Pekerja malam membutuhkan sistem yang tidak berhenti pukul sembilan.
Perempuan mengukur keamanan dengan cara berbeda
Maya memilih gerbong.
Lokasi berdiri.
Rute jalan.
Titik turun.
“Kalau gue merasa nggak aman, pilihan moda langsung berubah.”
Reno mengangguk.
Keamanan bukan angka kriminalitas saja.
Penerangan.
Visibility.
Petugas.
CCTV.
Crowd.
Last mile.
Respons ketika ada pelecehan.
Semua memengaruhi keputusan.
Disabilitas adalah tes paling jujur desain kota
Lift rusak satu hari mungkin hanya inconvenience bagi sebagian orang.
Bagi pengguna kursi roda, itu bisa memutus perjalanan.
Guiding block yang terhalang.
Ramp terlalu curam.
Trotoar naik turun.
Kota global tidak dinilai dari fasilitas ada di brosur.
Dinilai dari apakah fasilitas berfungsi saat dibutuhkan.
Air bersih dan sanitasi lebih penting dari landmark baru
Maya berkata:
“Global city kok ngomong toilet?”
“Justru harus.”
Air.
Toilet.
Drainase.
Sampah.
Semua basic urban service.
Kota hebat bukan kota yang melompati kebutuhan dasar menuju proyek spektakuler.
Ia menyelesaikan dasar sambil berkembang.
Banjir adalah ujian sistem, bukan sekadar cuaca
Jakarta selalu hidup dengan risiko banjir.
Drainase.
Sungai.
Pasang.
Hujan ekstrem.
Sampah.
Tata ruang.
Penurunan tanah.
Semua berinteraksi.
Masyarakat mungkin menerima hujan besar sebagai alam.
Mereka lebih sulit menerima sistem yang tidak siap.
Kota global harus resilient.
Data dan aplikasi harus mengurangi friksi
JAKI memberi warga akses laporan, informasi, banjir, transport, kualitas udara, dan berbagai fitur lain.
Bagus.
Tapi aplikasi kota harus mudah.
Kalau semua layanan punya login berbeda, password berbeda, dan upload berulang, warga capek.
Interoperability adalah kualitas layanan yang tidak terlihat.
Ranking berguna kalau diterjemahkan menjadi prioritas
Reno berkata:
“Global Cities Index melihat banyak dimensi seperti bisnis, human capital, information exchange, culture, dan political engagement.”
Maya menjawab:
“Warga nggak baca metodologinya.”
“Betul.”
Pemerintah yang harus menerjemahkan benchmark.
Kalau posisi lemah di transport, perbaiki.
Kalau environment, perbaiki.
Kalau human capital, perbaiki.
Ranking bukan trophy.
Ia alat diagnosis.
Jangan mengejar ranking dengan proyek yang hanya terlihat global
Gedung ikonik.
Event internasional.
Distrik bisnis.
Semua bisa penting.
Tapi kalau trotoar putus, kualitas udara buruk, biaya hidup menekan, dan pekerja tidak bisa tinggal dekat kerja, kota hanya global dari angle tertentu.
Kota global seharusnya bekerja di dua skala.
Internasional.
Sehari-hari.
Malam itu mereka pulang tanpa mobil
Maya sampai rumah.
Total perjalanan lebih lama sedikit dari mobil pada hari lancar.
Tapi ia bisa membaca di bus.
Tidak perlu parkir.
Biaya lebih rendah.
“Would I do it every day?” katanya.
Reno bertanya:
“Jawabannya?”
“Kalau last mile lebih enak, iya.”
Itu mungkin KPI yang lebih bermakna.
Bukan apakah transportasi publik ada.
Tapi apakah warga yang punya pilihan mau memilihnya.
Jakarta mengejar status kota global.
Ambisinya valid.
Kota ini memang pusat ekonomi besar, terhubung dengan dunia, punya energi budaya, dan skala metropolitan luar biasa.
Tapi status global tidak bisa hanya diukur dari jaringan bisnis.
Ukur dari kaki.
Trotoar.
Dari paru-paru.
Udara.
Dari jam.
Transportasi.
Dari rekening.
Biaya hidup.
Kalau empat hal itu membaik, ranking akan terasa punya makna.
Kalau tidak, warga akan tetap melihat angka global di layar sambil turun ke badan jalan karena trotoarnya terputus.
Biaya waktu seharusnya ikut dihitung sebagai biaya hidup
Maya mengeluarkan kalkulator.
Sewa mungkin lebih murah kalau tinggal lebih jauh.
Tapi perjalanan tambah 90 menit sehari.
Dalam satu bulan kerja, berapa jam hilang?
Reno berkata:
“Affordability nggak cuma harga rumah.”
Benar.
Hunian murah jauh dari transport bisa mahal dalam waktu.
Transport murah dengan tiga kali transit bisa mahal dalam energi.
Kota global perlu melihat total cost of urban life.
Uang.
Waktu.
Stres.
Akses.
Kota global juga membutuhkan pekerjaan yang tetap manusiawi
Jakarta menarik perusahaan dan investasi.
Tapi kota bukan hanya kantor premium.
Ada pekerja yang membuat semua sistem berjalan.
Petugas stasiun.
Kurir.
Cleaning service.
Teknisi.
Nakes.
Guru.
Pekerja hotel.
Restoran.
Retail.
Kalau jam kerja, perjalanan, dan biaya hidup mereka tidak sustainable, kota kehilangan fondasi operasionalnya.
Global competitiveness pada akhirnya juga bergantung pada apakah orang biasa bisa bertahan hidup dengan layak di kota.
