Sewa Booth Event Murah, Ternyata Biaya Tambahan Bikin Modal Jebol

Sewa booth event sering kelihatan seperti peluang bagus. Lokasi ramai, pengunjung banyak, promosi dibantu panitia, dan harga booth katanya masih murah.

Lo mulai bayangin jualan laris. Produk dipajang, orang lewat mampir, konten story ramai, brand kecil lo terlihat lebih serius.

Lalu setelah daftar, biaya tambahan mulai keluar satu-satu. Listrik bayar lagi. Meja tidak termasuk. Kursi sewa sendiri. Dekorasi wajib. Komisi transaksi ada. Parkir mahal. Stok harus ditambah. Ternyata modal yang disiapkan tidak cukup.

Harga Booth Bukan Total Biaya

Kesalahan pertama banyak pelaku usaha kecil adalah menganggap biaya booth sebagai biaya utama. Padahal booth cuma pintu masuk.

Masih ada transport barang, packing, display, banner, alat pembayaran, tenaga jaga, makan, parkir, listrik, dekorasi, dan kemungkinan stok tidak habis.

Kalau semua ini tidak dihitung, event yang terlihat murah bisa berubah jadi beban.

Ramai Event Belum Tentu Ramai Pembeli

Banyak event ramai secara foot traffic, tapi tidak semua pengunjung cocok dengan produk lo. Ada yang cuma jalan-jalan, cari hiburan, numpang foto, atau sudah punya tujuan belanja lain.

Kalau produk lo tidak sesuai profil pengunjung, booth ramai dilewati tapi transaksi sedikit.

Di Jakarta, event bisa terlihat keren dari poster. Tapi yang perlu lo cek bukan cuma desain poster. Cek siapa target pengunjungnya, jam ramai, tenant lain, lokasi booth, dan track record panitia.

Panitia yang Rapi Harus Berani Jelas di Awal

Sebelum bayar, minta rincian. Booth dapat apa saja? Ukuran berapa? Listrik berapa watt? Meja dan kursi termasuk? Ada biaya kebersihan? Ada komisi? Ada aturan refund kalau event batal?

Kalau panitia menjawab terlalu umum, hati-hati. Event yang tidak rapi dari administrasi biasanya akan lebih ribet saat hari H.

Chat promosi boleh heboh. Tapi kesepakatan harus detail.

Jangan Bawa Stok Tanpa Hitungan

Karena takut kehabisan, banyak penjual membawa stok terlalu banyak. Kalau produknya makanan, kosmetik, atau barang musiman, stok tidak laku bisa jadi kerugian.

Hitung skenario realistis. Berapa minimal penjualan supaya balik modal? Berapa target aman? Berapa batas rugi yang masih bisa diterima?

Kalau jawabannya tidak jelas, berarti lo belum siap masuk event itu.

Hari H Bisa Menguras Tenaga Lebih dari yang Lo Kira

Jaga booth seharian itu capek. Datang pagi, setup, berdiri lama, melayani pembeli, packing, menjawab pertanyaan, bikin konten, lalu bongkar lagi.

Kalau cuma lo sendiri, tenaga bisa habis sebelum event selesai. Kalau ajak teman, ada biaya makan atau komisi. Semua harus masuk hitungan.

Usaha kecil sering rugi bukan karena jualannya jelek, tapi karena tenaga dan waktu pemiliknya dianggap gratis.

Setelah Event, Hitung Beneran

Jangan cuma lihat omzet. Hitung semua biaya dan sisa stok. Dari situ baru tahu event itu untung, impas, atau rugi.

Catat juga kualitas pengunjung, produk yang paling laku, jam ramai, dan pertanyaan yang sering muncul. Event pertama bisa jadi riset, tapi jangan bilang untung kalau datanya belum jelas.

Booth Boleh Jadi Panggung, Tapi Angka Tetap Sutradaranya

Event bisa bantu usaha kecil terlihat hidup. Tapi jangan masuk hanya karena FOMO.

Di Jakarta, peluang jualan banyak. Tapi biaya kecil yang tidak dihitung bisa menghabiskan modal pelan-pelan.

Sebelum bayar booth, hitung semua. Kalau angka tidak masuk, jangan dipaksa hanya karena eventnya kelihatan ramai.

Baca juga masalah keuangan warga Jakarta, kenapa hidup di Jakarta terasa mahal, dan index risiko Jakarta.

Scroll to Top