Ada jenis kecemasan kantor yang bunyinya sangat pelan.
Tidak ada email darurat. Tidak ada panggilan mendadak. Tidak ada rumor besar.
Cuma satu tanggal di kalender: kontrak selesai tiga minggu lagi.
Lalu setiap notifikasi Teams terasa sedikit lebih penting.
“Ini HR bukan?”
Bukan. Grup makan siang.
Untuk pekerja PKWT, menunggu kabar sampai hari terakhir bukan strategi. Bahkan kalau hubungan dengan atasan baik dan sinyal perpanjangan terasa positif, persiapan sebaiknya dimulai sebelum keputusan resmi datang.
Bukan karena harus berasumsi kontrak tidak diperpanjang.
Karena ketidakpastian paling mudah dikelola ketika dokumen, uang, dan opsi sudah rapi.
Pertama, baca kontrak yang benar-benar ditandatangani
Bukan versi yang diingat.
Bukan rangkuman dari teman.
Bukan, “Kayaknya dulu HR bilang…”
Buka dokumennya.
Periksa tanggal mulai dan selesai, jabatan, ruang lingkup kerja, tempat kerja, komponen upah, ketentuan perpanjangan, benefit, serta dokumen tambahan atau addendum yang pernah ditandatangani.
Kalau ada perubahan jabatan atau gaji selama masa kontrak, pastikan salinannya ada.
Untuk konteks hukum, PP Nomor 35 Tahun 2021 masih tercatat berlaku dalam JDIH Kementerian Ketenagakerjaan pada Agustus 2026. Aturan itu mengatur PKWT, termasuk ketentuan jangka waktu, larangan masa percobaan dalam PKWT, pencatatan PKWT, dan uang kompensasi ketika PKWT berakhir.
Untuk PKWT berdasarkan jangka waktu, total jangka waktu beserta perpanjangannya dapat mencapai paling lama lima tahun sesuai ketentuan PP tersebut. Aturan yang sama juga menyatakan PKWT tidak boleh mensyaratkan masa percobaan kerja. Jika klausul masa percobaan dicantumkan, ketentuan percobaannya batal demi hukum dan masa kerja tetap dihitung.
Ini informasi umum. Kondisi individual bisa berbeda, jadi kalau ada sengketa atau dokumen yang membingungkan, gunakan kanal resmi ketenagakerjaan atau bantuan profesional yang sesuai.
Hitung kompensasi sebelum menunggu angka dari HR
PP 35/2021 mewajibkan pengusaha memberikan uang kompensasi kepada pekerja PKWT yang telah mempunyai masa kerja paling sedikit satu bulan secara terus-menerus, dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan tersebut.
Untuk masa kerja 12 bulan terus-menerus, besarnya satu bulan upah. Untuk masa kerja kurang atau lebih dari 12 bulan, perhitungannya proporsional berdasarkan masa kerja dibagi 12 dikalikan satu bulan upah.
Dasar “satu bulan upah” juga punya ketentuan. Dalam kondisi umum, ia menggunakan upah pokok dan tunjangan tetap. Ada pengaturan tersendiri bila struktur upah perusahaan berbeda.
Kenapa perlu menghitung sendiri?
Bukan untuk datang ke HR dengan mode berantem.
Supaya ketika menerima perincian, kita tahu apa yang sedang dibaca.
Kalau kontrak diperpanjang, PP tersebut juga mengatur pemberian kompensasi pada akhir jangka waktu PKWT sebelum perpanjangan, kemudian kompensasi berikutnya setelah masa perpanjangan berakhir sesuai ketentuan.
Simpan hitungan sebagai catatan pribadi. Kalau hasil perusahaan berbeda, tanyakan dasar perhitungannya secara tertulis.
Buat timeline pribadi, bukan menebak-nebak
Perusahaan punya proses internal. Kandidat juga boleh punya timeline sendiri.
Misalnya 30 hari sebelum kontrak berakhir, periksa dokumen dan runway keuangan.
Dua atau tiga minggu sebelumnya, jadwalkan percakapan dengan atasan bila belum ada informasi.
Satu atau dua minggu sebelumnya, pastikan status handover, dokumen pribadi, dan akses yang perlu dibereskan.
Ini bukan deadline hukum. Ini timeline manajemen risiko pribadi.
Kalimat untuk atasan tidak perlu dramatis.
“Kontrak saya berakhir tanggal X. Saya ingin memastikan rencana tim supaya saya bisa menyiapkan handover atau kelanjutan kerja dengan rapi. Kapan kira-kira keputusan bisa dikomunikasikan?”
Singkat.
Spesifik.
Tidak pasif-agresif.
Kalau atasan belum tahu, setidaknya kita punya informasi baru: keputusan memang belum final.
Jangan berhenti mencari opsi hanya karena ada sinyal perpanjangan
Ini bagian yang sering terasa tidak enak.
Atasan bilang, “Harusnya lanjut.”
Teman satu tim bilang, “Tenang, nama lo udah dibahas.”
HR bilang, “Sedang proses.”
Semua bisa disampaikan dengan niat baik. Tapi selama belum ada keputusan atau dokumen yang jelas, itu masih sinyal.
Tidak salah mulai memperbarui CV.
Tidak salah menghubungi kenalan.
Tidak salah melihat pasar.
Mencari opsi bukan tindakan tidak loyal. Ini cara mengurangi ketergantungan pada keputusan yang berada di tangan orang lain.
Kalau kontrak akhirnya diperpanjang dan kondisinya bagus, lamaran lain bisa dihentikan.
Kalau tidak diperpanjang, kita tidak memulai dari hari nol.
Rapikan achievement log tanpa membawa data perusahaan
Menjelang akhir kontrak adalah waktu yang bagus untuk mencatat apa yang sudah dikerjakan.
Bukan mengunduh file kantor.
Bukan mengirim deck rahasia ke email pribadi.
Bukan menyalin database.
Yang dibutuhkan adalah achievement log yang aman: proyek apa yang ditangani, peran kita, masalah yang dipecahkan, tools yang digunakan, proses yang diperbaiki, jenis stakeholder yang dikelola, dan hasil yang boleh dijelaskan secara umum.
Kalau ada angka yang bersifat rahasia, jangan bawa.
Kalau ada karya yang memang diizinkan masuk portfolio, minta izin atau pastikan kebijakan perusahaan membolehkan.
Tujuannya supaya satu tahun kerja tidak hilang menjadi kalimat, “handle daily operation”.
Kerja yang pernah dilakukan harus bisa diterjemahkan menjadi bukti kemampuan.
Cek akun dan akses pribadi sebelum hari terakhir
Banyak pekerjaan sekarang bercampur dengan identitas digital.
Nomor pribadi dipakai untuk autentikasi.
Email personal mungkin pernah menjadi recovery.
Aplikasi authenticator ada di HP sendiri.
Kontak vendor tersimpan di WhatsApp.
Sebelum hari terakhir, pastikan pemisahan dilakukan dengan benar.
Jangan menghapus data perusahaan sembarangan. Jangan memindahkan akses yang bukan milik kita. Koordinasikan dengan IT atau admin bila ada akun yang memakai nomor pribadi.
Sebaliknya, pastikan perusahaan tidak terus memakai email atau nomor pribadi sebagai recovery setelah hubungan kerja selesai.
Ini detail kecil yang bisa menjadi repot berbulan-bulan kemudian.
Tanyakan apa yang akan diterima saat kontrak selesai
Kalau keputusan akhirnya tidak diperpanjang, minta kejelasan tentang administrasi akhir.
Kapan upah terakhir dibayar?
Bagaimana perincian kompensasi PKWT?
Dokumen apa yang akan diberikan?
Bagaimana status benefit setelah tanggal terakhir bekerja?
Apa prosedur pengembalian aset?
Siapa kontak HR setelah akses kantor ditutup?
Untuk kepesertaan atau manfaat program ketenagakerjaan, cek status dan ketentuan langsung melalui kanal resmi BPJS Ketenagakerjaan atau Kementerian Ketenagakerjaan, karena kelayakan manfaat bergantung pada syarat program dan kondisi pekerja.
Jangan mengandalkan informasi dari grup chat lama.
Simpan dokumen akhir di folder pribadi yang aman.
Kalau diperpanjang, jangan cuma lihat kata “lanjut”
Perpanjangan kontrak sering terasa seperti kabar baik yang membuat orang langsung lega.
Bagus.
Setelah lega, baca dokumennya.
Apakah jabatan sama?
Gaji berubah?
Lokasi kerja berubah?
Tanggung jawab bertambah?
Pola kerja berubah?
Durasi perpanjangan berapa lama?
Ada benefit yang berbeda?
Ada target baru?
Perpanjangan bukan formalitas kosong. Ia adalah kontrak baru atau kelanjutan hubungan kerja dengan konsekuensi yang perlu dipahami.
Dan ingat, PKWT tidak boleh mensyaratkan masa percobaan kerja. Kalau muncul klausul yang terasa aneh, jangan buru-buru tanda tangan hanya karena takut kesempatan hilang.
Tanyakan.
Siapkan cashflow untuk dua skenario
Satu spreadsheet kecil bisa menurunkan banyak kecemasan.
Skenario pertama: kontrak diperpanjang.
Apa yang berubah pada gaji, benefit, dan biaya kerja?
Skenario kedua: kontrak selesai.
Berapa kebutuhan wajib per bulan?
Berapa dana likuid yang ada?
Pengeluaran apa yang bisa dikurangi sementara?
Kapan perlu mulai mengambil pekerjaan sementara atau freelance?
Apakah ada cicilan yang perlu diatur lebih awal?
Jangan menunggu saldo menipis untuk membuat rencana.
Kalau punya tiga bulan runway, itu bukan berarti tiga bulan bebas belanja seperti biasa. Itu waktu untuk mencari pemasukan berikutnya dengan kepala lebih tenang.
Minta referensi saat hubungan masih hangat
Kalau masa kerja berjalan baik, jangan menunggu enam bulan setelah keluar untuk mencari orang yang bisa memberi referensi.
Tanyakan secara sopan kepada atasan atau rekan senior apakah mereka bersedia menjadi professional reference bila nanti dibutuhkan. Tidak perlu meminta surat panjang kalau perusahaan tidak punya kebiasaan seperti itu. Cukup pastikan siapa yang nyaman dihubungi, lewat kanal apa, dan informasi apa yang boleh disampaikan.
Ini juga saat yang baik untuk meminta feedback singkat tentang kekuatan dan area yang perlu diperbaiki.
Feedback tersebut punya dua fungsi. Pertama, membantu menutup masa kerja dengan pembelajaran yang konkret. Kedua, memberi bahasa yang lebih tajam untuk interview berikutnya. Sering kali seseorang tahu dia “kerja keras”, tetapi tidak tahu bahwa orang lain melihat kekuatannya justru pada koordinasi, ketelitian, kemampuan menenangkan klien, atau kecepatan belajar.
Referensi adalah aset relasi, bukan dokumen yang baru dicari saat recruiter sudah menunggu.
Pisahkan hak, kebijakan perusahaan, dan asumsi
Menjelang kontrak berakhir, banyak informasi beredar lewat teman kantor.
“Katanya sisa cuti pasti diuangkan.”
“Katanya laptop boleh dibeli.”
“Katanya akses masih aktif seminggu.”
Masalahnya, tiga kalimat itu bisa berbeda antarperusahaan dan antarstatus pekerja.
Jangan membuat rencana berdasarkan “katanya”.
Periksa peraturan perusahaan, perjanjian kerja, perjanjian kerja bersama bila ada, dan penjelasan HR. Untuk hak yang berasal dari peraturan perundang-undangan, cek sumber resmi. Untuk benefit internal, cek kebijakan perusahaan.
Hal serupa berlaku untuk aset. Laptop, kartu akses, SIM card kantor, token, kendaraan, atau perangkat lain biasanya punya prosedur pengembalian sendiri. Minta checklist jika tersedia dan simpan bukti serah terima.
Hari terakhir terasa jauh lebih ringan ketika tidak ada percakapan, “Eh, charger kantor masih di lo, kan?” dua minggu kemudian.
Jangan buru-buru menghapus jejak komunikasi yang menjadi dokumen pribadi
Menutup hubungan kerja bukan berarti menghapus semua pesan.
Simpan komunikasi yang memang berkaitan dengan hak dan administrasi pribadi, misalnya konfirmasi tanggal kerja terakhir, perincian pembayaran, atau instruksi pengembalian aset, sepanjang penyimpanannya tidak melanggar kerahasiaan perusahaan.
Sebaliknya, bersihkan akun pribadi dari file kantor yang tidak seharusnya berada di sana.
Tujuannya adalah pemisahan yang rapi: dokumen pribadi tetap tersedia, data perusahaan kembali ke perusahaan.
Handover adalah reputasi terakhir
Orang sering fokus pada keputusan kontrak sampai lupa bahwa minggu terakhir juga bagian dari karier.
Dokumentasikan pekerjaan.
Tandai status proyek.
Serahkan akses sesuai prosedur.
Buat catatan untuk orang yang melanjutkan.
Jangan meninggalkan kekacauan hanya karena kecewa.
Bahkan kalau keputusan perusahaan tidak sesuai harapan, profesionalisme pada akhir masa kerja adalah aset. Dunia kerja Jakarta besar, tetapi lingkar industri tertentu bisa sangat kecil. Mantan atasan, rekan, vendor, atau klien bisa muncul lagi beberapa tahun kemudian.
Tidak perlu berpura-pura bahagia.
Cukup rapi.
Dan kalau HR belum menghubungi?
Hubungi duluan.
Ketidakpastian tidak selalu hilang setelah kita bertanya, tetapi bentuknya menjadi lebih jelas.
Mungkin jawabannya, “masih menunggu approval.”
Mungkin, “tidak diperpanjang.”
Mungkin, “akan diperpanjang tiga bulan.”
Ketiganya lebih berguna daripada menebak nada chat atasan.
Pada hari-hari terakhir kontrak, kalender memang terasa seperti menghitung mundur. Tapi yang sebenarnya bisa kita lakukan adalah mengubah countdown itu menjadi checklist.
Kontrak boleh punya tanggal akhir.
Persiapan karier sebaiknya tidak.
