Pukul 19.46, ponsel Rani bergetar.
Panggilan video dari adiknya.
Wajahnya muncul.
Suara juga mirip.
“Ran, transfer dulu tiga juta. Gue ada masalah, nanti gue jelasin.”
Rani langsung berdiri.
“Ada apa?”
“Sekarang aja dulu.”
Di meja sebelah, temannya, Dimas, melihat ekspresinya berubah.
“Siapa?”
“Adik gue.”
Dimas mendengar beberapa detik.
Lalu berkata:
“Telepon nomor dia yang biasa. Jangan lanjut dari call ini.”
Rani kesal.
“Itu muka dia.”
“Justru.”
Panggilan ditutup.
Rani menelepon adiknya lewat nomor yang tersimpan sejak lama.
Adiknya mengangkat sambil makan.
“Transfer apa?”
Rani diam.
Dimas berkata pelan:
“Nah.”
Skenario ilustratif seperti ini terdengar seperti film sampai kita melihat arah penipuan digital pada 2026.
OJK sudah berkali-kali memperingatkan bahwa scam berkembang lewat social engineering, rekening mule, merchant, aset virtual, phishing, sampai penggunaan AI untuk meniru suara atau visual. Per 31 Juli 2026, Indonesia Anti-Scam Centre atau IASC mencatat 637.055 laporan pengaduan sejak mulai beroperasi. Lebih dari 1,17 juta rekening telah dilaporkan, dan ratusan ribu rekening diblokir.
Angka itu bukan alasan untuk hidup paranoid.
Tapi cukup untuk mengubah satu kebiasaan:
di kota digital, bahaya tidak selalu terlihat di jalan.
Kadang ia datang sebagai notifikasi.
Wajah yang familiar tidak lagi selalu bukti
Dulu kita diajari:
jangan percaya nomor asing.
Sekarang masalahnya lebih sulit.
Nomor bisa disamarkan.
Akun teman bisa diambil alih.
Suara bisa ditiru.
Video bisa dimanipulasi.
Pesan bisa dibuat sangat personal.
Rani berkata:
“Kalau yang nelepon tadi cuma suara robot, gue pasti curiga.”
Dimas menjawab:
“Scam sekarang justru menang kalau kelihatannya normal.”
Deepfake mengubah trust.
Bukan berarti setiap video harus dicurigai.
Tapi permintaan yang berisiko tinggi perlu verifikasi kedua.
Transfer uang.
Kirim OTP.
Share screen.
Install aplikasi.
Berikan dokumen.
Semua harus lewat satu checkpoint tambahan.
Buat kata verifikasi keluarga
Dimas punya kesepakatan keluarga.
Kalau ada permintaan uang mendesak lewat telepon:
tanya satu hal yang tidak biasa diketahui orang luar.
Bukan tanggal lahir.
Bukan alamat.
Bukan nama ibu.
Data seperti itu bisa bocor.
Pertanyaan bisa berubah.
Misalnya:
“Nama panggilan kucing pertama kita apa?”
Atau gunakan satu kata kode keluarga yang tidak pernah dikirim di media sosial.
Rani tertawa.
“Keluarga lo kayak intel.”
“Lebih murah daripada transfer salah.”
Jangan mengandalkan satu kanal
Kalau WhatsApp minta uang, telepon biasa.
Kalau telepon minta tindakan, chat lewat akun lain.
Kalau email kantor minta pembayaran, konfirmasi ke rekan melalui kanal internal.
Kalau “bank” menelepon, tutup lalu hubungi nomor resmi yang kita cari sendiri.
Cross-channel verification adalah kebiasaan kecil yang makin penting.
AI bukan satu-satunya masalah
Rani awalnya berkata:
“Berarti scam sekarang semua pakai AI?”
Tidak.
Sebagian besar penipuan tetap bisa memakai teknik lama:
urgency.
takut.
rakus.
kasihan.
otoritas palsu.
kebingungan.
AI hanya memperkuat.
Pesan lebih natural.
Suara lebih meyakinkan.
Foto lebih rapi.
Website lebih cepat dibuat.
Jangan fokus pada teknologinya sampai lupa mekanisme psikologisnya.
Urgency adalah alarm
“Sekarang.”
“Jangan telepon siapa-siapa.”
“Lima menit lagi akun diblokir.”
“Kalau tidak bayar malam ini, polisi datang.”
“Promo cuma tiga menit.”
Tekanan waktu sengaja dibuat agar kita melewati proses berpikir.
Dimas punya aturan:
“Kalau orang maksa keputusan finansial dalam lima menit, gue tambah waktu jadi lima belas.”
Rani tertawa.
Tapi efektif.
Remote access adalah risiko besar
OJK pada 2026 juga menyoroti modus social engineering yang mengarahkan korban melakukan share screen atau memasang aplikasi akses jarak jauh dengan dalih bantuan layanan perbankan, pajak, kependudukan, atau layanan lain.
Bayangkan.
Penipu tidak perlu tahu password.
Ia tinggal melihat layar.
OTP muncul.
Saldo terlihat.
Aplikasi bank dibuka.
Itu sebabnya jika seseorang berkata:
“Install aplikasi ini supaya saya bantu,”
berhenti.
Terutama jika aplikasi berasal dari link chat, file APK, atau sumber yang bukan toko aplikasi atau kanal resmi.
Petugas resmi tidak perlu mengendalikan ponsel kita
Bank bisa memberi instruksi.
Customer service bisa membantu langkah.
Dukcapil bisa menjelaskan.
Petugas pajak bisa memberi panduan.
Tapi meminta kontrol penuh perangkat pribadi adalah red flag kuat.
Jangan menyerahkan screen control hanya karena orang di telepon terdengar profesional.
Data pribadi sering bocor bukan lewat hacking dramatis
Rani pernah mengirim foto KTP ke grup sewa apartemen.
Dimas bertanya:
“Kenapa grup?”
“Agent bilang kirim.”
“Siapa aja membernya?”
Rani membuka.
Dua belas orang.
Ia terdiam.
Kebocoran data sering terjadi karena workflow sehari-hari.
KTP di grup.
KK di WhatsApp.
Slip gaji ke nomor personal.
Foto kartu kredit.
Screenshot rekening.
Dokumen kontrak di drive “anyone with link”.
Tidak ada hacker pakai hoodie.
Hanya kebiasaan.
Data pribadi punya nilai ketika digabung
Satu nama mungkin tidak berbahaya.
Nama plus tanggal lahir.
NIK.
nomor telepon.
alamat.
nama ibu.
rekening.
tempat kerja.
Semakin banyak potongan, semakin mudah social engineering.
Penipu bisa menelepon dan terdengar tahu kita.
“Bu Rani, alamat Ibu masih di X kan?”
Korban berpikir:
“Dia tahu data saya, berarti resmi.”
Belum tentu.
Data bocor justru dipakai untuk menciptakan legitimasi palsu.
Jangan verifikasi identitas penelpon dengan data yang dia sendiri sebut
Misalnya penelpon berkata:
“Saya dari bank, kartu Ibu berakhir 4821.”
Itu bukan bukti kuat.
Informasi kartu parsial bisa berasal dari kebocoran atau dokumen lama.
Verifikasi bank dengan:
tutup telepon,
buka aplikasi resmi,
hubungi nomor resmi,
atau datang ke cabang jika perlu.
Link lebih mudah dipalsukan daripada logo
Website scam bisa terlihat bagus.
Logo benar.
Warna benar.
Bahasa benar.
Ada chatbot.
Ada HTTPS.
Semua itu bukan jaminan.
OJK bahkan pernah mengingatkan munculnya website palsu yang mengatasnamakan IASC.
Ironis.
Pusat anti-scam pun bisa dicatut scam.
Karena itu, cari kanal dari situs OJK resmi, bukan dari link iklan atau pesan yang datang ke kita.
Kalau jadi korban, kecepatan penting
Rani bertanya:
“Kalau sudah transfer gimana?”
Dimas tidak bercanda lagi.
Kalau transaksi penipuan baru terjadi:
hubungi bank atau penyedia jasa keuangan secepat mungkin,
laporkan ke IASC melalui kanal resmi,
simpan bukti,
dan jika ada unsur tindak pidana, buat laporan kepada kepolisian sesuai kebutuhan.
IASC dibangun untuk mempercepat koordinasi pemblokiran rekening dan penanganan transaksi scam.
Tidak ada jaminan uang selalu kembali.
Tapi delay memperkecil peluang dana masih bisa dihentikan.
Jangan habiskan jam pertama dengan membuat konten viral
Insting modern:
screenshot,
post,
tag semua akun.
Boleh memberi peringatan publik nanti.
Tapi menit awal lebih berguna untuk:
bank,
IASC,
blokir akun,
ganti password,
amankan SIM,
simpan bukti.
Virality tidak membekukan rekening.
Bukti perlu utuh
Simpan:
nomor rekening tujuan,
nama rekening,
nomor telepon,
chat,
email,
link,
waktu transaksi,
nominal,
bukti transfer,
voice note,
screenshot panggilan,
nama aplikasi,
dan kronologi.
Jangan edit original.
Kalau mau upload ke publik, buat copy yang sudah menutup data sensitif.
Scam recovery juga bisa scam
Setelah korban posting:
“Saya tertipu.”
Akun baru DM:
“Kami bisa recovery dana.”
Minta fee.
Minta data.
Minta remote access.
Minta seed phrase.
Ini scam lapis kedua.
Korban yang sedang panik lebih mudah diyakinkan.
Gunakan kanal resmi.
Jangan percaya orang yang menjanjikan dana pasti kembali.
AI juga membuat dokumen palsu lebih meyakinkan
Surat.
invoice.
ID card.
screenshot chat.
foto meeting.
Semua lebih mudah dibuat.
Jadi verifikasi dokumen tidak cukup dari penampilan.
Cek sumber.
Nomor surat.
domain.
rekening.
kontak institusi.
QR code pun perlu konteks
Rani menerima QR pembayaran dari “vendor”.
Nama merchant muncul berbeda.
Ia bertanya.
Vendor asli berkata:
“Bukan punya kami.”
Sebelum bayar QR:
lihat nama penerima.
Nominal.
merchant.
Jangan scan dari file random lalu buru-buru konfirmasi.
Data anak perlu lebih dijaga
Orang tua sering upload:
nama lengkap.
tanggal lahir.
sekolah.
kelas.
rute.
seragam.
lokasi les.
Semua terasa biasa.
Kalau digabung, profil anak menjadi detail.
Tidak perlu berhenti berbagi kehidupan.
Tapi pertimbangkan granularity.
Sekolah dan jadwal tidak harus real-time.
Share location juga punya risiko
Live location berguna untuk safety.
Tapi jangan dibagikan di ruang publik.
Bagikan ke orang yang memang perlu.
Aplikasi dating.
marketplace.
komunitas.
semuanya punya konteks berbeda.
WiFi publik bukan otomatis jahat, tapi tetap hati-hati
Kafe.
mal.
stasiun.
airport.
Jaringan publik nyaman.
Untuk aktivitas sensitif, gunakan koneksi yang tepercaya dan hindari jaringan palsu dengan nama mirip.
Jangan mematikan semua security hanya karena ingin internet gratis.
SIM card adalah bagian identitas finansial
OTP.
WhatsApp.
bank.
recovery.
Kalau ponsel hilang, blokir SIM.
Kalau tiba-tiba nomor kehilangan sinyal tanpa sebab dan ada aktivitas akun aneh, hubungi operator.
SIM bukan cuma alat telepon.
Ia sering menjadi kunci recovery.
Password manager lebih realistis daripada “ingat semua”
Rani punya 47 akun.
Password yang sama dipakai di tujuh.
Dimas berkata:
“Kalau satu bocor?”
“Ya…”
Gunakan password unik untuk akun penting.
Email utama.
Bank.
cloud.
marketplace.
social media.
Password manager membantu.
2FA membantu.
Tidak membuat kebal.
Tapi menaikkan barrier.
Email utama adalah pusat kerajaan
Kalau email diambil, banyak akun bisa di-reset.
Amankan lebih kuat.
Password unik.
2FA.
Recovery contact.
Audit session.
Jangan anggap email cuma tempat newsletter.
Kantor juga menjadi target
Finance staff.
HR.
procurement.
executive assistant.
Semua punya akses ke proses pembayaran.
AI voice cloning bisa meniru atasan.
Email spoofing bisa terlihat seperti vendor.
Perusahaan perlu SOP:
perubahan rekening vendor harus diverifikasi,
transfer di atas nominal tertentu butuh dual approval,
permintaan mendesak dari direktur tetap mengikuti prosedur.
Culture “bos bilang cepat” adalah celah.
Jangan mempermalukan korban
Rani berkata:
“Kalau sampai ketipu begini, malu banget.”
Dimas menjawab:
“Scam dirancang supaya orang normal bikin keputusan salah.”
Korban bisa sangat cerdas.
Professional.
digital-savvy.
Scammer memanfaatkan konteks dan emosi.
Menyalahkan korban justru membuat orang enggan melapor.
Kecepatan laporan penting.
Tetapi empati bukan alasan menutup evaluasi
Setelah kejadian, audit.
Data apa yang bocor?
Kenapa permintaan dipercaya?
Apakah keluarga punya verification code?
Apakah transfer terlalu mudah?
Apakah limit terlalu tinggi?
Apakah akun perlu direset?
Belajar tanpa mempermalukan.
Kota digital punya risiko yang tidak terlihat
Jalan berlubang terlihat.
Lampu mati terlihat.
Copet punya lokasi.
Scam digital tidak punya gang tertentu.
Pelaku bisa berada jauh.
Korban di Kuningan.
rekening di kota lain.
server di negara lain.
pesan masuk ke kamar tidur.
Itulah kenapa safety kota sekarang bukan hanya CCTV dan patroli.
Literasi digital adalah bagian keselamatan warga.
Risiko juga masuk lewat pekerjaan sehari-hari
Kurir minta kode.
Agent properti minta KTP.
HR minta rekening.
Bank minta verifikasi.
Sekolah minta KK.
Warga berinteraksi dengan banyak pihak.
Kita tidak mungkin tidak berbagi data sama sekali.
Yang dibutuhkan bukan refusal total.
Yang dibutuhkan proportional sharing.
Siapa?
Untuk apa?
Berapa lama?
Lewat kanal apa?
Setelah malam itu, keluarga Rani membuat aturan
Tidak ada transfer keluarga mendesak tanpa callback.
Tidak ada OTP di chat.
Tidak ada share screen.
Dokumen sensitif diberi konteks.
Nomor resmi bank disimpan.
Kata verifikasi keluarga dibuat.
Adiknya tertawa saat mendengar.
“Nama kucing?”
Rani menjawab:
“Jangan sebut di grup.”
Mereka semua tertawa.
Risiko digital 2026 memang lebih canggih.
AI membuat suara dan gambar lebih mudah dimanipulasi.
Scam makin terorganisasi.
Data pribadi makin tersebar.
Tapi pertahanan warga tidak selalu harus canggih.
Kadang bentuknya sederhana:
berhenti lima menit,
telepon balik,
cek nama penerima,
jangan instal APK,
jangan beri OTP,
dan lapor cepat kalau sudah terjadi.
Di kota besar, kita sudah belajar melihat kiri kanan sebelum menyeberang jalan.
Sekarang ada kebiasaan baru yang sama pentingnya:
sebelum menekan tombol transfer, lihat kiri kanan juga.
