Sabtu, 10.12.
Depan booth Lala sudah antre.
Dia sempat senyum ke Dini, kakaknya.
“Ramai.”
Dini mengangkat dua jempol sambil membungkus pesanan.
Pukul 14.00, stok minuman hampir habis.
Pukul 19.30, mereka bongkar booth.
Di mobil, Lala berkata:
“Kayaknya event ini paling sukses.”
Dini tidak langsung jawab.
Dia membuka catatan.
Sewa booth.
Transport.
Bensin.
Parkir.
Es.
Listrik tambahan.
Helper.
Packaging.
Promo.
Sisa bahan.
Lala melihat.
“Kenapa muka lo?”
“Gue lagi cari untungnya.”
Booth ramai adalah pemandangan yang menyenangkan.
Foto bagus.
Story penuh.
Orang antre.
QRIS bunyi.
Tapi traffic bukan profit.
Jualan di bazaar, festival, atau event kota punya cost yang muncul sebelum satu customer datang.
Event memang menjadi ruang nyata untuk UMKM Jakarta
Sepanjang 2026, berbagai instansi Pemprov DKI masih menggelar kegiatan yang melibatkan UMKM binaan di bazaar dan event.
Kesempatan seperti ini bisa bagus.
Brand exposure.
Testing produk.
Sales.
Networking.
Tapi setiap event harus diperlakukan sebagai mini project.
Bukan sekadar:
“Ramai, ikut.”
Sewa booth hanya biaya pertama
Lala membayar booth Rp1,5 juta.
Dia pikir itu cost utama.
Ternyata ada:
meja tambahan,
banner,
lampu,
transport barang,
karyawan,
makan,
stok,
ice box,
perpanjangan kabel,
cash float,
packaging.
Booth Rp1,5 juta bisa menjadi total Rp4 juta sebelum produk terjual.
Angka hanya ilustrasi.
Setiap event beda.
Hitung break-even sebelum berangkat
Dini bertanya:
“Margin per cup?”
Mereka hitung.
Setelah bahan dan packaging: Rp14 ribu.
Total fixed event cost: misalnya Rp3,5 juta.
Berarti mereka perlu menjual sekitar 250 cup hanya untuk menutup fixed event cost sebelum menghasilkan profit event.
Sederhana.
Break-even memberi target real.
Bukan target omzet.
Omzet tinggi bisa ditipu produk margin rendah
Lala punya dua produk.
Produk A laku banget.
Margin tipis.
Produk B lebih lambat.
Margin tinggi.
Kalau semua sales datang dari A, omzet terlihat besar.
Profit belum tentu.
Mereka mulai melihat contribution per product.
Traffic event tidak sama dengan traffic booth
Event bisa ramai.
Tapi posisi booth jauh.
Orang lewat cepat.
Target audience beda.
Festival keluarga tidak sama dengan event anak muda.
Event kantor tidak sama dengan weekend market.
Sebelum daftar, tanya:
pengunjung siapa?
jam ramai?
lokasi booth?
tenant mix?
ada kategori produk mirip berapa?
Lokasi booth bisa mengubah hasil
Dekat pintu masuk.
Dekat panggung.
Dekat toilet.
Sudut.
Lantai atas.
Semua memengaruhi flow.
Lala pernah dapat booth belakang.
Traffic kecil.
Event organizer berkata:
“Total pengunjung 20 ribu.”
Lala menjawab:
“Yang lewat booth gue mungkin 500.”
Total attendance tidak otomatis menjadi audience kita.
Jangan percaya proposal event tanpa cek histori
Organizer bilang:
“Last event sukses.”
Tanya sukses menurut siapa?
Berapa pengunjung?
Berapa tenant?
Apa dokumentasinya?
Ada testimoni merchant?
Kategori serupa performanya bagaimana?
Tidak semua data akan diberikan.
Tapi makin banyak yang bisa diverifikasi, makin baik.
Event pertama bisa dianggap biaya riset
Kalau event baru, tidak ada data.
Boleh ikut.
Tapi sizing investasi.
Jangan beli stok tiga kali normal untuk eksperimen.
Set target:
sales.
lead.
followers.
repeat order.
content.
Kalau profit nol tapi dapat customer repeat yang bernilai, mungkin tetap berguna.
Tapi harus diukur.
Sisa stok adalah bagian perhitungan
Event selesai.
Ada 100 cup bahan.
Kalau masih bisa dijual besok, bukan kerugian penuh.
Kalau perishable dan harus dibuang, loss.
Dini menghitung wastage.
Lala tidak suka.
“Jangan dihitung, sakit.”
“Kalau nggak dihitung, besok kita ulang.”
Staffing sering diremehkan
Owner jaga booth sendiri 12 jam.
Lalu bilang tidak ada biaya tenaga kerja.
Padahal waktunya punya nilai.
Kalau bisnis ingin scale, suatu hari harus membayar orang.
Minimal hitung opportunity cost.
Helper perlu role jelas
Satu orang cashier.
Satu production.
Satu runner.
Kalau semua melakukan semua hal, saat antrean panjang chaos.
Dini membuat role.
Lala bilang:
“Booth kecil aja pake SOP.”
“Justru biar kecil nggak meledak.”
Payment digital membantu, reconciliation tetap perlu
QRIS mempercepat pembayaran.
Tapi setelah event, cocokkan:
transaction count,
cash,
QRIS,
refund,
manual transfer.
Jangan hanya percaya omzet dari catatan tangan.
Internet bisa bermasalah
Event ramai.
Jaringan padat.
QRIS atau aplikasi bisa lambat tergantung koneksi.
Punya backup data.
Punya prosedur kalau status pembayaran belum terlihat.
Jangan langsung menuduh customer belum bayar.
Cek.
Promo event harus dihitung siapa yang menanggung
Organizer minta:
“Semua tenant diskon 10 persen.”
Lala bertanya:
“Subsidinya siapa?”
Ternyata merchant.
Kalau margin 20 persen, diskon 10 persen bukan kecil.
Sampling juga biaya
Memberi tester bagus untuk conversion.
Tapi 300 sample adalah bahan.
Masukkan budget.
Jangan menganggap gratis karena tidak dijual.
Packaging premium bisa tidak relevan di event
Lala pakai box mahal yang cocok untuk delivery.
Di event, customer langsung konsumsi.
Dini mengganti packaging lebih sederhana.
Margin naik.
Experience tetap baik.
Menu terlalu banyak memperlambat antrean
Awalnya 12 item.
Customer lama pilih.
Produksi lambat.
Mereka potong menjadi 6 best-seller.
Queue lebih cepat.
Sales per hour naik.
Event membutuhkan menu engineering berbeda dari toko reguler.
Harga event tidak harus selalu sama dengan online
Kalau event punya cost tambahan, ada bisnis yang menyesuaikan harga.
Boleh, selama transparan dan sesuai strategi.
Tapi jangan random markup tanpa value.
Lihat market.
Data customer lebih berharga dari satu sale kalau diperoleh dengan izin
Lala membuat QR untuk follow Instagram dan program loyalty.
Tidak memaksa.
Tidak meminta data pribadi berlebihan.
Setelah event, sebagian customer order lagi.
Sekarang event punya tail.
Jangan hanya foto antrean
Foto ramai bagus untuk marketing.
Tapi bisnis perlu foto dashboard.
Berapa transaksi?
Average order?
Top SKU?
Wastage?
Labor hour?
Repeat lead?
Lala punya dua album.
Album Instagram.
Album keputusan.
Transport pulang bisa lebih mahal
Event selesai malam.
Barang banyak.
Helper pulang.
Perlu kendaraan tambahan.
Dini memasukkan closing logistics ke budget sebelum event.
Dulu selalu muncul sebagai surprise.
Cuaca adalah variabel besar
Outdoor event punya risiko hujan.
Panas.
Angin.
Pengunjung turun.
Produk rusak.
Tenda bocor.
Kalau event outdoor, contingency perlu.
Plastic cover.
Stock protection.
Equipment safety.
Tidak semua bisa dikontrol.
Tapi beberapa bisa.
Jangan membeli booth hanya karena FOMO
Teman bisnis posting:
“See you at event X.”
Lala merasa harus ikut.
Dini bertanya:
“Audience kita ada di sana?”
“Kayaknya.”
“Data?”
“Nggak ada.”
Mereka skip.
Weekend itu mereka fokus online.
Omzet biasa.
Profit lebih baik.
Tidak semua keramaian harus dimasuki.
Event bagus bisa layak diulang meski profit pertama kecil
Mereka punya event yang profit tipis.
Tapi repeat order tinggi.
Organizer rapi.
Audience cocok.
Tahun berikutnya mereka ikut lagi dengan operasi lebih efisien.
Profit naik.
Event portfolio juga perlu dibangun.
Event buruk perlu diberi postmortem
Kenapa rugi?
Traffic?
Pricing?
Sewa?
Stok?
Wastage?
Staff?
Lokasi?
Bukan cuma:
“Event-nya jelek.”
Cari sebab yang bisa diperbaiki.
Kalau penyebab utama di luar kontrol, jangan ikut lagi.
Sponsorship event bisa mengubah economics booth
Beberapa event menawarkan tenant benefit.
Voucher.
Subsidi booth.
Promosi.
Peralatan.
Kalau ada, nilai secara nyata.
Jangan karena organizer bilang “exposure senilai jutaan” lalu dianggap cash.
Yang masuk hitungan hanyalah manfaat yang benar-benar mengurangi biaya atau meningkatkan hasil secara terukur.
Event berbayar dan event gratis perlu dinilai sama disiplin
Booth gratis terasa tanpa risiko.
Padahal tetap ada stok, transport, tenaga, dan waktu.
Dini pernah ikut event gratis yang sepi.
Sewa nol.
Tapi satu hari kerja hilang.
Profit kecil.
Gratis hanya menghilangkan satu baris biaya.
Cashless event perlu contingency
Ada event yang mendorong transaksi digital.
Bagus.
Tapi kalau jaringan padat atau aplikasi lambat, antrean bisa berhenti.
Lala punya fallback:
dua provider data,
power bank,
petunjuk transfer jika memang diperlukan sesuai prosedur,
dan staff yang tahu cara memastikan pembayaran.
Tidak perlu membuat customer menunggu sambil semua orang panik.
Tentukan stok dari capacity produksi, bukan ambisi omzet
Lala pernah membawa stok untuk 1.000 transaksi.
Tim sebenarnya hanya bisa melayani 60 transaksi per jam.
Event delapan jam.
Secara operasional, stok berlebihan.
Sekarang mereka menghitung throughput.
Berapa transaksi maksimal realistis?
Itulah batas stok.
Booth layout memengaruhi kecepatan
Menu di mana?
QRIS di mana?
Pickup di mana?
Queue mulai dari mana?
Barang backup?
Dini menggambar layout sederhana.
Hasilnya, orang tidak saling tabrak.
Kecepatan naik.
Satu event juga menghasilkan content asset
Foto produk.
Customer reaction.
Video ramai.
Bisa dipakai marketing.
Kalau memang menjadi tujuan, siapkan.
Bukan sibuk jualan lalu lupa merekam apa pun.
Tapi jangan mengorbankan service hanya untuk bikin konten.
Jangan menilai event dari hari itu saja
Seminggu setelah event, Lala melihat repeat order.
Ada customer follow Instagram.
Ada corporate enquiry.
Sekarang event dinilai dalam dua horizon:
profit langsung,
nilai lanjutan.
Tetap, exposure harus diukur sebisanya.
Bukan menjadi alasan permanen untuk rugi.
Booth ramai juga perlu queue limit
Kalau antrean terlalu panjang, customer pergi sebelum beli.
Lala mulai mengukur waktu pelayanan rata-rata.
Kalau satu order empat menit dan ada 20 orang, masalahnya jelas.
Solusi bisa menu lebih pendek, prepack, payment flow lebih cepat, atau tambah satu orang.
Traffic tinggi baru bernilai kalau kapasitas bisa mengubahnya menjadi transaksi.
Lala akhirnya menemukan angka yang benar
Di rumah, pukul 23.40.
Mereka selesai rekonsiliasi.
Omzet event tinggi.
Profit ada.
Tapi hanya sepertiga yang Lala bayangkan.
Dia terdiam.
Dini bertanya:
“Kecewa?”
“Sedikit.”
“Masih mau ikut event lagi?”
“Mau.”
“Kenapa?”
“Sekarang gue tahu targetnya.”
Itu perkembangan.
Booth ramai memang menyenangkan.
Tapi bisnis tidak hidup dari foto antrean.
Ia hidup dari margin setelah semua orang pulang.
Jualan di event kota bisa membuka pelanggan, exposure, dan omzet baru.
Tapi sebelum daftar, hitung dari belakang.
Berapa biaya hadir?
Berapa margin per transaksi?
Berapa break-even?
Berapa stok aman?
Dan kalau booth nanti ramai, jangan langsung bilang untung.
Tunggu sampai kabel gulung, QRIS direkap, stok dihitung, helper dibayar, dan semua biaya yang “cuma kecil” selesai mengaku.
