Kota Global Bukan Cuma Gedung Tinggi: Pengalaman Warga di Jalan Menentukan Kualitas Jakarta

JKT.WEB.ID KNOWLEDGE SYSTEM
FormatPost
Diperbarui7 September 2026
Waktu baca7 menit
KonteksPanduan praktis

“Jakarta keren dari atas.”

Maya sedang menunjukkan foto skyline kepada Reza.

Gedung tinggi.

Lampu.

Jalan besar.

Kereta melintas.

Reza mengangguk.

“Sekarang turun.”

“Ke mana?”

“Jalan kaki.”

Lima menit kemudian, Maya berhenti di ujung trotoar yang menyempit.

“Okay.”

Reza tersenyum.

“Nah.”

Mereka adalah karakter ilustratif, tetapi perdebatan mereka mewakili satu pertanyaan besar Jakarta.

Apa yang membuat sebuah kota global?

Bandara internasional?

Gedung tinggi?

Perusahaan multinasional?

Pusat keuangan?

Event dunia?

Semua penting.

Tapi warga mengalami kota bukan dari helicopter shot.

Mereka mengalaminya dari tinggi badan manusia.

Trotoar.

Halte.

Crossing.

Pohon.

Drainase.

Toilet.

Lampu jalan.

Bangku.

Udara.

Suara.

Jarak.

Pada 2026, Pemprov DKI terus membawa target Jakarta menuju jajaran kota global. Pemerintah menyebut posisi Jakarta dalam Global City Index meningkat dari peringkat 74 pada 2024 menjadi 71 pada 2025, dengan target masuk 50 besar pada 2029–2030.

Target itu besar.

Tapi kualitas kota global akhirnya harus lolos tes paling sederhana:

Bagaimana rasanya berjalan 800 meter?

Kota terlihat berbeda ketika kecepatannya turun menjadi 5 km per jam

Maya biasanya melewati koridor itu dengan mobil.

“Gue nggak pernah lihat ini.”

“Apa?”

“Tokonya.”

“Karena biasanya lo lewat 40 kilometer per jam.”

Saat berjalan, kota berubah.

Retakan terlihat.

Warung terlihat.

Pohon terasa.

Crossing terasa lama.

Bau selokan terasa.

Fasad tertutup terasa.

Orang lain terlihat sebagai manusia, bukan titik di jalan.

Walking speed adalah audit.

Itu sebabnya trotoar bukan aksesori beautification.

Ia infrastruktur yang menghubungkan warga dengan ekonomi, transit, layanan, dan ruang sosial.

Trotoar lebar bukan cukup kalau hak pejalan kaki tidak dijaga

Jakarta terus menata trotoar di berbagai koridor. Pada Rasuna Said 2026, penataan setelah pembongkaran tiang monorel memasukkan pelebaran jalur pedestrian pada sisi tertentu. Pemprov juga menjalankan Operasi Bina Tertib Trotoar 2026 untuk menangani pemanfaatan yang mengganggu fungsi trotoar, termasuk parkir liar dan penggunaan lain yang tidak sesuai.

Maya melihat motor berhenti sebentar di jalur pedestrian.

“Sebentar doang.”

Reza menjawab:

“Kalau semua sebentar, trotoarnya hilang.”

Desain dan enforcement harus jalan bersama.

Trotoar terbaik pun gagal kalau berubah menjadi parkir.

Crossing menentukan apakah dua sisi jalan benar-benar satu kawasan

Mereka ingin menyeberang.

Jaraknya tidak jauh.

Tapi titik crossing resmi berada lebih depan.

Maya berkata:

“Muter.”

Reza menjawab:

“Daripada sprint lawan mobil.”

Kota yang walkable bukan hanya punya trotoar.

Ia punya crossing yang masuk akal.

Jarak tidak terlalu jauh.

Waktu lampu cukup.

Marka terlihat.

Akses kursi roda.

Pulau jalan bila perlu.

Kecepatan kendaraan terkendali.

Dua trotoar bagus di sisi berbeda tetap tidak terhubung kalau menyeberang terasa berbahaya.

Kota global harus bisa digunakan orang biasa, bukan hanya difoto investor

Maya berkata:

“Kalau investor datang, yang dilihat pasti kawasan bagus.”

“Warga datang tiap hari.”

Kota global tidak cukup menjual image.

Ia harus punya everyday usability.

Pekerja yang naik bus.

Anak sekolah.

Pedagang.

Kurir.

Ibu dengan stroller.

Lansia.

Penyandang disabilitas.

Pekerja malam.

Mereka menggunakan kota jauh lebih sering daripada delegasi bisnis.

Kalau pengalaman mereka buruk, kualitas global hanya hidup di brosur.

Transit dan jalan kaki adalah satu paket

Jakarta menargetkan porsi aktivitas masyarakat makin terkonsentrasi di sekitar simpul transit dan perjalanan transportasi publik terus meningkat.

MRT.

LRT.

TransJakarta.

KRL.

Mikrotrans.

Semua jaringan itu membutuhkan pedestrian.

Reza berkata:

“Transport publik tanpa jalan kaki itu nggak ada.”

Maya mengangguk.

Setiap pengguna transit adalah pejalan kaki pada satu titik perjalanan.

Karena itu, investasi transit besar perlu diikuti last mile.

Kalau turun dari stasiun lalu harus berebut ruang dengan kendaraan, kualitas sistem jatuh.

Bangku adalah indikator kota yang mengizinkan orang berhenti

Mereka akhirnya menemukan bangku.

Maya duduk.

“Enak.”

“Padahal cuma kursi.”

“Exactly.”

Kota modern sering fokus pada movement.

Bergerak cepat.

Transit cepat.

Jalan cepat.

Tapi warga juga perlu berhenti.

Lansia.

Ibu menyusui.

Pekerja menunggu.

Orang sakit.

Orang ngobrol.

Bangku publik mengatakan:

Kamu boleh berada di sini.

Bukan hanya lewat.

Ini elemen kecil yang mengubah jalan dari kanal transportasi menjadi ruang kota.

Teduh menentukan apakah walkability hidup pukul dua siang

Matahari naik.

Maya mencari pohon.

“Kalau nggak ada teduh, gue naik kendaraan.”

Reza tidak membantah.

Walkability di Jakarta tidak bisa menyalin kota beriklim dingin.

Pohon.

Kanopi.

Fasad.

Orientasi jalan.

Material.

Air minum.

Semua memengaruhi pengalaman panas.

Sebuah jalur bisa technically walkable, tapi secara termal menyiksa pada jam tertentu.

Kota global tropis perlu punya definisi kenyamanan sendiri.

Drainase adalah bagian pengalaman pedestrian

Hujan datang beberapa hari sebelumnya.

Ada genangan kecil di ujung jalan.

Maya berkata:

“Kalau hujan deras?”

Reza menunjuk saluran.

Drainase bukan isu terpisah dari walkability.

Air mengubah trotoar.

Lubang tertutup.

Orang turun ke jalan.

Crossing licin.

Akses difabel terganggu.

Pada penataan Rasuna Said 2026, peningkatan saluran air juga menjadi bagian pekerjaan bersama penataan pedestrian.

Ini menunjukkan satu prinsip.

Kota tidak bekerja dalam silo.

Trotoar, drainase, utilitas, pohon, transportasi, dan jalan adalah satu pengalaman.

Toilet publik menunjukkan apakah kota menerima manusia sebagai tubuh

Maya tertawa ketika Reza tiba-tiba mencari toilet.

“Global city test.”

“Jangan bercanda.”

Orang punya tubuh.

Butuh toilet.

Air.

Istirahat.

Kota yang hanya memikirkan movement tanpa kebutuhan biologis terasa hostile.

Toilet publik memang sulit dikelola.

Kebersihan.

Keamanan.

Maintenance.

Vandalisme.

Biaya.

Tapi solusi bukan mengabaikannya.

Semakin banyak orang berjalan dan menggunakan ruang publik, semakin penting fasilitas dasar.

Signage membuat kota bisa digunakan orang yang tidak tahu kota

Turis.

Pendatang.

Warga dari kecamatan lain.

Orang pertama kali naik moda.

Mereka tidak punya mental map.

Maya menunjuk papan arah.

“Ini membantu.”

Kota global harus legible.

Nama jalan.

Arah stasiun.

Nomor halte.

Jarak.

Peta kawasan.

Informasi bilingual pada titik relevan.

Digital app membantu.

Tapi signage fisik tetap penting.

Kota yang hanya mudah bagi orang lokal belum sepenuhnya global.

Pedagang kaki lima bukan sekadar masalah atau dekorasi

Mereka membeli minum dari pedagang.

Maya berkata:

“Kalau semua steril, juga aneh.”

Reza mengangguk.

Ekonomi informal adalah bagian nyata Jakarta.

Tantangannya adalah mengatur agar aktivitas ekonomi tidak menghilangkan hak pejalan kaki.

Bukan selalu menghapus.

Bukan membiarkan tanpa aturan.

Desain kota perlu mencari ruang.

Zona.

Waktu.

Lebar.

Pengelolaan sampah.

Akses.

Kota global yang punya identitas lokal tidak harus terlihat seperti airport terminal sepanjang jalan.

Keamanan terasa dari visibility, bukan hanya jumlah kamera

Sore berubah malam.

Lampu jalan menyala.

Ada toko masih buka.

Orang lewat.

Maya berkata:

“Di sini gue masih nyaman.”

Rasa aman dibentuk banyak elemen.

Pencahayaan.

Aktivitas ground floor.

Jarak pandang.

Kepadatan yang sehat.

Petugas.

Akses transportasi.

CCTV bisa membantu, tapi bukan satu-satunya jawaban.

Jalan yang mati, gelap, dan tidak punya aktivitas tetap terasa buruk meskipun kamera ada.

Kota global juga perlu memberi ruang bagi orang yang lambat

Di depan mereka, seorang lansia berjalan pelan.

Maya menyesuaikan langkah.

Reza berkata:

“Ini sebenarnya tes kota.”

“Apa?”

“Apakah orang lambat bikin sistem marah.”

Trotoar sempit membuat orang cepat kesal.

Lampu crossing pendek membuat lansia terburu-buru.

Tangga tanpa lift membuat sebagian orang berhenti.

Kota inklusif memberi waktu dan ruang.

Tidak semua pengguna bergerak dengan pace pekerja 25 tahun yang telat meeting.

Indeks global penting, tapi jangan sampai warga berubah jadi dashboard

Peringkat membantu pemerintah membandingkan.

Investasi.

Konektivitas.

Ekonomi.

Human capital.

Governance.

Culture.

Banyak indikator berguna.

Tapi warga tidak hidup dalam ranking.

Mereka hidup dalam perjalanan.

Maya berkata:

“Kalau ranking naik tapi trotoar rumah gue rusak?”

“Ya trotoarnya tetap rusak.”

Indikator harus membantu mengarahkan perbaikan, bukan menggantikan pengalaman.

Kota terbaik bukan yang bisa menjelaskan skornya paling bagus.

Ia yang membuat skor itu terasa dalam kehidupan.

Jalan adalah ruang demokratis paling sering dipakai

Tidak semua orang punya akses ke gedung premium.

Tidak semua masuk coworking space.

Tidak semua punya mobil.

Tapi hampir semua orang menggunakan jalan.

Karena itu, kualitas jalan publik punya efek luas.

Pejalan kaki.

Pesepeda.

Pengguna kursi roda.

Pengendara.

Pedagang.

Transportasi umum.

Semua bertemu.

Jalan adalah tempat konflik kepentingan paling nyata sekaligus tempat kota menunjukkan prioritas.

Maintenance adalah bagian kota global yang paling tidak fotogenik

Maya menunjuk satu ubin trotoar yang bergoyang.

“Ini pasti bagus waktu baru.”

Reza menjawab:

“Kota diuji setelah dua tahun.”

Membangun mudah terlihat.

Merawat jauh lebih sunyi.

Lampu mati perlu diganti.

Guiding block rusak perlu diperbaiki.

Pohon perlu dirawat.

Drainase dibersihkan.

Marka dicat ulang.

Trotoar dibebaskan dari hambatan.

Kota global bukan hanya punya proyek baru.

Ia punya sistem maintenance yang membuat kualitas tidak turun setelah peresmian.

Kalau warga harus terus menunggu proyek revitalisasi berikutnya untuk mendapatkan fasilitas yang kembali berfungsi, siklusnya terlalu mahal.

Jalan yang nyaman juga memperkuat ekonomi lokal

Ketika orang mau berjalan, mereka lebih mudah berhenti.

Lihat toko.

Beli minum.

Masuk warung.

Menemukan jasa.

Reza berkata:

“Kalau naik mobil, kita sudah lewat.”

Maya mengangguk.

Walkability bukan hanya kebijakan transportasi.

Ia punya dimensi ekonomi.

Foot traffic memberi peluang usaha di level jalan.

Karena itu, kualitas pedestrian dan vitalitas ekonomi lokal sering saling menguatkan.

Mereka kembali melihat skyline dari bawah

Malam mulai turun.

Maya melihat gedung tinggi di antara pohon.

“Masih keren.”

Reza tersenyum.

“Gue nggak bilang gedungnya jelek.”

“Cuma?”

“Jangan berhenti di situ.”

Jakarta memang membutuhkan investasi besar.

Transportasi.

Gedung.

Infrastruktur.

Pusat ekonomi.

Event internasional.

Semua bagian ambisi kota global.

Tapi warga menilai kota dari detail yang jauh lebih dekat.

Apakah kaki aman?

Apakah bisa menyeberang?

Apakah ada teduh?

Apakah halte terhubung?

Apakah trotoar dipakai sesuai fungsi?

Apakah lansia bisa duduk?

Apakah hujan langsung membuat perjalanan kacau?

Apakah malam terasa aman?

Gedung tinggi bisa menunjukkan kapasitas ekonomi.

Jalan menunjukkan kualitas hidup.

Dan kota global yang benar-benar matang harus bisa lolos dua tes sekaligus.

Terlihat kuat dari skyline.

Terasa manusiawi dari trotoar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top