“Cuma bungkus permen.”
Yudi berkata sambil menunjuk benda kecil yang nyangkut di grill saluran depan rumah.
Bu Lina, tetangganya, tidak menjawab.
Ia mengambil sapu, menarik dua daun basah, satu gelas plastik, beberapa puntung, dan bungkus makanan yang ikut menumpuk di titik itu.
“Masih cuma bungkus permen?”
Yudi melihat.
“Ya kalau digabung jadi banyak.”
“Nah.”
Hujan belum turun.
Langit baru gelap.
Tapi selokan di depan tiga rumah sudah memberi preview tentang apa yang akan terjadi kalau aliran air bertemu sampah.
Dinas Sumber Daya Air DKI secara rutin melakukan pengurasan saluran untuk mengangkat lumpur, sampah, dan material lain yang menghambat aliran. Pemerintah kota juga terus mengaitkan kerja bakti pembersihan selokan dengan upaya memperlancar drainase dan mengurangi risiko genangan.
Itu bukan berarti semua banjir Jakarta disebabkan sampah.
Penyebab banjir jauh lebih kompleks: curah hujan tinggi, kapasitas drainase, luapan sungai, topografi, pasang laut, pompa, sedimentasi, tata ruang, serta faktor lain.
Tetapi pada skala lingkungan, sampah kecil yang tersangkut di titik sempit tetap bisa mengurangi kapasitas aliran.
Dan masalah lokal sering dimulai dari benda yang ukurannya dianggap terlalu kecil untuk penting.
Drainase bekerja sebagai jaringan
Bu Lina menunjuk selokan.
“Air dari rumah lo enggak berhenti di sini.”
“Ya ngalir.”
“Ke rumah siapa?”
Yudi tertawa.
“Gue enggak hafal peta drainase.”
Itulah information gain pertama.
Selokan depan rumah bukan fasilitas pribadi.
Ia bagian dari jaringan.
Air bergerak mengikuti elevasi dan jalur saluran.
Kalau satu titik tersumbat, dampaknya bisa muncul beberapa rumah dari sumber masalah.
Bahkan warga yang rajin membersihkan depan rumahnya tetap bisa kena genangan kalau titik hilir tersumbat.
Sebaliknya, sampah yang dibuang di depan rumah A bisa berhenti di grill depan rumah B.
Karena itu, drainase lingkungan tidak bisa dikelola sebagai kompetisi:
“Depan rumah gue bersih, urusan selesai.”
Bu Lina mengajak beberapa tetangga berjalan sampai ujung gang.
Mereka menemukan titik pertemuan saluran.
Di situ sampah lebih banyak.
“Ini yang harus dicek sebelum hujan,” katanya.
Yudi mengangguk.
“Jadi bukan cuma sapu depan pagar.”
“Exactly.”
Jaringan air membutuhkan cara pikir jaringan.
Daun bukan sampah jahat, tapi bisa jadi sumbatan
Ada pohon besar di ujung gang.
Daunnya jatuh setiap hari.
Tidak ada yang ingin menebang hanya karena daun masuk selokan.
Pohon memberi teduh dan membantu lingkungan.
Masalahnya adalah pemeliharaan.
Saat daun kering berkumpul lalu terkena hujan, ia bisa membentuk lapisan padat di grill atau mulut saluran.
Ditambah plastik tipis dan kemasan, aliran makin tertahan.
“Berarti daun juga harus diangkat rutin,” kata Yudi.
“Betul.”
“Padahal natural.”
“Natural bukan berarti harus masuk got.”
Kota punya banyak benda alami yang tetap perlu dikelola.
Daun.
Lumpur.
Sedimen.
Ranting.
Semuanya bisa mengurangi kapasitas efektif saluran kalau menumpuk.
Information gain kedua: masalah drainase bukan hanya sampah buatan manusia.
Sedimentasi dan material organik juga penting.
Ini menjelaskan kenapa petugas SDA melakukan pengurasan, bukan sekadar mengambil plastik yang terlihat.
Kadang saluran terlihat bersih di permukaan tetapi dasar sudah dipenuhi lumpur.
Kapasitasnya menyusut diam-diam.
Jangan buka tutup saluran sembarangan saat hujan deras
Ketika hujan mulai turun, Yudi ingin mengangkat grill depan rumah agar air lebih cepat masuk.
Bu Lina langsung melarang.
“Jangan kalau arusnya sudah kencang.”
“Kenapa?”
“Bahaya. Lubangnya jadi terbuka.”
Dalam kondisi genangan atau hujan deras, keselamatan lebih penting daripada heroisme bersih-bersih.
Saluran terbuka bisa menjadi bahaya bagi pejalan kaki, anak, pengendara, atau warga yang tidak melihat lubang karena tertutup air.
Arus air juga bisa membuat orang terpeleset.
Benda tajam dan kotoran bisa terbawa.
Pembersihan paling aman dilakukan sebelum hujan atau ketika kondisi terkendali.
Jika sumbatan besar ada di saluran publik, laporkan ke pengurus lingkungan atau layanan pemerintah terkait.
Jangan masuk ke gorong-gorong.
Jangan membongkar struktur drainase sendiri.
Jangan berdiri di arus yang tidak diketahui kedalamannya.
“Jadi cleaning harus pre-emptive?”
Yudi mulai memakai bahasa kantornya.
Bu Lina menatap.
“Bersihin sebelum hujan.”
“Lebih sederhana.”
Pencegahan memang kurang dramatis.
Tidak ada video viral orang menyelamatkan gang.
Cuma sapu, sarung tangan, karung, dan sepuluh menit.
Tapi itu lebih aman.
Selokan juga punya titik yang tidak boleh disentuh warga
Saat kerja bakti, Yudi menemukan tutup bak kontrol berat dan ingin membukanya.
Bu Lina menghentikan.
“Yang itu biar petugas.”
Tidak semua bagian drainase aman untuk dibongkar warga.
Ada ruang sempit.
Gas berbahaya dapat terkumpul di sistem tertentu.
Ada struktur berat.
Ada arus.
Ada risiko jatuh.
Karena itu kerja bakti sebaiknya fokus pada material permukaan dan titik yang memang aman dijangkau.
Kalau sumbatan berada jauh di dalam saluran, butuh alat khusus, atau berkaitan dengan struktur publik, laporkan.
Information gain ketiga: partisipasi warga punya batas teknis.
Semangat gotong royong tidak mengubah selokan menjadi area tanpa risiko.
Petugas SDA memiliki alat dan prosedur untuk pekerjaan yang memang bukan level rumah tangga.
“Jadi gue enggak boleh jadi Ninja Warrior gorong-gorong?”
“Jangan.”
Yudi menaruh kembali alatnya.
Ada kalanya kontribusi paling benar memang tahu kapan berhenti.
Satu titik yang aman dibersihkan warga bisa dikerjakan rutin. Titik yang membutuhkan pembongkaran, alat, atau masuk ke ruang tertutup harus diserahkan kepada petugas yang memang punya perlengkapan dan prosedur.
Sampah kecil punya efek akumulasi
Yudi punya kebiasaan membeli kopi plastik.
Ia tidak pernah membuang cup ke jalan.
Jadi ia merasa bukan bagian masalah.
Suatu hari tutup plastiknya terlepas dari tas sampah saat diangkut.
Angin membawa ke selokan.
“Gue enggak sengaja,” katanya.
“Ya, banyak sampah jalan juga enggak punya pelaku yang bilang sengaja.”
Benda bisa keluar dari sistem karena kantong robek.
Tempat sampah terlalu penuh.
Truk terbuka.
Angin.
Hewan.
Pedagang yang tidak punya wadah.
Puntung yang dilempar.
Sapu jalan yang mendorong sampah ke sisi saluran.
Karena itu solusi tidak cukup berupa slogan “jangan buang sampah sembarangan”.
Kota perlu tempat sampah yang tepat.
Pengangkutan rutin.
Wadah tertutup.
Pembersihan jalan.
Pengelolaan pedagang.
Perawatan drainase.
Dan perilaku warga.
Sampah jalan adalah produk sistem.
Kalau hanya menyalahkan satu orang yang tertangkap kamera, akar masalah bisa terlewat.
Tapi warga tetap punya peran.
Pastikan kantong sampah tertutup.
Jangan taruh sampah terlalu lama di titik yang mudah terbawa hujan.
Jangan menyapu kotoran masuk saluran.
Kurangi benda ringan yang gampang terbang.
Ikuti jadwal pengangkutan.
Sederhana.
Dampaknya kolektif.
Rumah yang tidak pernah banjir tetap perlu peduli
Pak Herman, rumah nomor 12, tidak ikut bersih-bersih.
“Rumah saya tinggi.”
Bu Lina menjawab, “Jalannya?”
Pak Herman diam.
Rumah aman dari masuknya air tidak berarti mobilitas aman.
Kalau gang tergenang, kendaraan tidak bisa lewat.
Kurir tertahan.
Anak sekolah sulit keluar.
Ambulans bisa terganggu.
Listrik area tertentu bisa terdampak.
Warung tutup.
Jadi risiko banjir bukan cuma air masuk ruang tamu.
Itu tema yang akan terasa di artikel berikutnya juga: rute bisa gagal meski bangunan tetap kering.
Pak Herman akhirnya turun membawa pengki.
“Gue bersihin depan rumah aja.”
Bu Lina tersenyum.
“Mulai dari situ.”
Tidak semua genangan bisa dicegah dengan sapu
Ini juga perlu tegas.
Kalau hujan ekstrem turun lebih cepat daripada kapasitas sistem drainase, genangan tetap bisa terjadi meski saluran bersih.
Kalau sungai meluap, masalahnya beda.
Kalau rob menahan pembuangan air ke laut, aliran juga terdampak.
Kalau pompa berhenti, sistem polder bisa terganggu.
Jadi jangan gunakan narasi sampah untuk menyalahkan korban banjir.
“Makanya banjir karena warga jorok” adalah penjelasan terlalu dangkal.
Sampah adalah salah satu faktor yang bisa memperburuk aliran lokal.
Bukan satu-satunya penyebab.
Bu Lina bahkan menolak ketika ada orang berkata,
“Kalau semua orang bersih, Jakarta enggak akan banjir.”
“Enggak sesimpel itu,” katanya.
Pengendalian banjir membutuhkan infrastruktur, operasi pompa, waduk, sungai, drainase, pengendalian tata ruang, informasi cuaca, dan pemeliharaan.
Kebersihan saluran adalah satu lapisan.
Penting.
Tapi bukan sihir.
Kerja bakti yang berguna harus punya target
Minggu pagi, RT mereka mengadakan kerja bakti.
Dulu kegiatannya lebih banyak sapu jalan dan foto bersama.
Kali ini Bu Lina membawa daftar titik.
Mulut saluran dekat warung.
Grill ujung gang.
Bak kontrol.
Area bawah pohon.
Titik yang sering tergenang.
“Kenapa pakai daftar?” tanya Yudi.
“Biar enggak cuma kelihatan sibuk.”
Mereka membersihkan.
Satu kelompok dokumentasi mencatat masalah yang tidak bisa dikerjakan warga, seperti saluran yang sedimentasinya dalam dan struktur penutup yang rusak.
Masalah itu diteruskan ke pengurus untuk dilaporkan ke instansi terkait.
Kerja bakti berubah dari kegiatan sosial menjadi inspeksi sederhana.
Tetap ada kopi.
Tetap ada gorengan.
Tapi ada output.
Yudi tertawa.
“Ini baru project management.”
Bu Lina menjawab, “Kalau lo ngomong sprint gue pulang.”
Kebiasaan sebelum hujan
Beberapa minggu kemudian, langit kembali gelap.
Tidak ada yang panik.
Yudi keluar.
Ia melihat grill.
Bersih.
Ada dua daun.
Diangkat.
Kantong sampah yang menunggu pengangkutan dipindah sedikit agar tidak berada di jalur air.
Bu Lina dari seberang mengangkat jempol.
Hujan turun.
Air mengalir.
Gang tetap sempat tergenang tipis di satu titik.
Tapi cepat turun.
Mereka tidak mengklaim itu semata karena kerja bakti.
Hujannya juga tidak terlalu ekstrem.
Kondisi hilir mendukung.
Pompa kota bekerja.
Banyak faktor bertemu.
Justru itu cara yang lebih dewasa membaca banjir.
Tidak mencari satu penyebab.
Tidak mencari satu pahlawan.
Selokan depan rumah adalah bagian kecil dari sistem besar.
Warga tidak bisa mengendalikan hujan.
Tidak bisa mengubah pasang laut.
Tidak bisa memperbesar sungai sendiri.
Tetapi warga bisa memastikan bungkus permen, daun menumpuk, cup plastik, dan kantong sampah tidak menjadi masalah tambahan.
Kadang ketahanan kota dimulai dari tindakan yang terlalu kecil untuk masuk berita.
Mengangkat sampah sebelum air mengangkatnya lebih dulu. Dan memastikan titik yang tidak aman diserahkan kepada petugas, bukan dijadikan arena improvisasi warga saat hujan sudah datang lebih dulu.
