Notifikasi LinkedIn muncul saat Raka sedang menunggu lift.
“Happy to share that I’ve been promoted to Senior Manager…”
Nama yang muncul: Aldi.
Mereka masuk perusahaan di tahun yang sama.
Training bareng.
Dulu bahkan satu level.
Raka membaca sampai selesai.
Lalu menutup aplikasi.
Lift datang.
Di dalam, seorang teman kantor berkata:
“Eh, lihat Aldi naik?”
Raka tersenyum.
“Iya. Keren.”
Nada suaranya aman.
Perasaannya tidak sesederhana itu.
Tidak ada yang salah dengan senang untuk teman dan sekaligus merasa tertinggal.
Dua emosi bisa hidup bersamaan.
Masalahnya bukan rasa iri muncul.
Masalahnya kalau rasa itu mulai mengubah cara kita bekerja tanpa disadari.
“Gue happy kok”
Malamnya, Raka bertemu Santi.
“Lo kenapa?”
“Nggak kenapa.”
“Aldi?”
Raka menatap.
“Gue happy kok.”
Santi mengangguk.
“Kalau lo harus bilang tiga kali, biasanya nggak seratus persen happy.”
Raka tertawa.
“Jahat.”
“Manusiawi.”
Perbandingan paling kuat biasanya bukan dengan orang yang jauh.
Bukan CEO.
Bukan public figure.
Tapi orang yang memulai dari titik mirip.
Teman satu angkatan.
Teman satu kampus.
Teman satu program management trainee.
Karena kita punya baseline yang sama.
Ketika mereka naik lebih dulu, otak cepat membuat kesimpulan:
berarti gue lambat.
Padahal jalur setelah titik awal bisa berbeda jauh.
Satu title tidak menunjukkan seluruh kondisi
Aldi naik cepat.
Raka belum.
Tapi Raka pindah fungsi dua tahun lalu.
Dia belajar area baru.
Membangun skill dari awal.
Aldi tetap di jalur yang sama dan sekarang memimpin tim.
Kalau hanya melihat title, Aldi lebih cepat.
Kalau melihat aset karier, ceritanya lebih kompleks.
Santi bertanya:
“Lo mau jalur Aldi?”
Raka berpikir.
“Enggak juga.”
“Terus lo iri apa?”
“Momentum.”
Nah.
Kadang yang kita iri bukan pekerjaannya.
Kita iri pada simbol bahwa seseorang bergerak.
Rasa tertinggal bisa membuat orang overwork
Minggu setelah melihat promosi Aldi, Raka mulai mengambil lebih banyak pekerjaan.
Ada project ekstra, dia ambil.
Meeting opsional, dia ikut.
Atasan meminta bantuan, dia langsung bilang iya.
Santi melihat kalendernya.
“Kenapa mendadak jadi superman?”
“Gue mau lebih visible.”
“Visible atau panik?”
Raka diam.
Itulah bahaya comparison-driven performance.
Orang mulai bekerja bukan karena prioritas karier, tapi karena ingin mengejar seseorang.
Akibatnya, dia bisa mengambil semua hal tanpa arah.
Busy.
Tapi tidak strategic.
Tanya: apa sebenarnya yang membuat dia naik?
Daripada terus membandingkan hasil, Raka akhirnya menghubungi Aldi.
“Bro, congrats ya.”
“Thanks.”
“Boleh gue tanya? Tahun terakhir lo fokus apa sampai bisa naik?”
Aldi menjawab santai.
“Tahun lalu gue pegang expansion project. Sama mulai manage dua orang.”
“Berarti scope lo udah berubah sebelum title?”
“Iya, sekitar delapan bulan.”
Informasi itu lebih berguna daripada postingan.
Raka sekarang tahu promosi Aldi bukan kejadian mendadak.
Ada progression.
Project.
Leadership.
Exposure.
Kalau ingin belajar dari teman, cari mekanisme.
Bukan hanya hasil.
Jangan membuat promosi teman menjadi kritik terhadap atasan
Raka sempat ingin masuk one-on-one dan berkata:
“Teman seangkatan saya di perusahaan lain sudah Senior Manager.”
Untung tidak.
Karena informasi itu tidak terlalu relevan.
Atasan Raka tidak mengelola karier Aldi.
Pembicaraan lebih kuat kalau berbasis scope sendiri.
“Dalam satu tahun terakhir saya sudah menangani A dan B. Saya ingin tahu gap saya ke level berikutnya apa.”
Fokus kembali ke jalur sendiri.
Tapi perbandingan pasar tetap boleh
Bukan berarti harus menutup mata dari eksternal.
Kalau semua teman selevel di industri sudah naik dua level sementara kita tetap di posisi yang sama selama lima tahun, itu informasi.
Bisa jadi struktur perusahaan terlalu lambat.
Bisa jadi kompensasi tertinggal.
Bisa jadi skill kita perlu diperbarui.
Benchmark berguna.
Asal tidak dijadikan hukuman psikologis.
Gunakan sebagai data.
Bukan identitas.
Promosi tidak selalu berarti hidup lebih enak
Beberapa minggu kemudian, Aldi mengeluh.
“Gue sekarang meeting 70 persen waktu.”
Raka tertawa.
“Lah, kan Senior Manager.”
“Makanya.”
“Gaji naik?”
“Naik.”
“Worth it?”
Aldi diam.
“Masih adaptasi.”
Raka baru melihat sisi lain.
Dia iri pada title.
Tidak melihat jam kerja.
Tekanan.
Target.
Ekspektasi.
Setiap kenaikan punya harga.
Kita tidak bisa membandingkan highlight orang dengan full reality kita.
Teman bisa jadi sumber informasi, bukan rival
Raka dan Aldi akhirnya rutin tukar cerita.
Raka belajar bagaimana Aldi mengelola stakeholder.
Aldi justru tertarik pada skill data yang dipelajari Raka setelah pindah fungsi.
“Gue pengen belajar itu,” kata Aldi.
Raka tertawa.
“Lah, gue kira gue yang ketinggalan.”
“Lo beda jalur, bro.”
Kadang teman yang membuat kita iri justru bisa menjadi benchmark yang paling jujur.
Karena mereka tahu perjalanan awal kita.
Asal hubungan tidak berubah jadi kompetisi diam-diam.
Jangan rusak kerja tim karena ingin mengejar title
Raka sempat menjadi lebih sensitif.
Ketika rekan lain mendapat kesempatan presentasi, dia merasa kalah.
Ketika bos memuji orang lain, dia merasa dilupakan.
Santi menegur:
“Lo sekarang ngitung semuanya.”
“Ngitung apa?”
“Siapa dipuji, siapa dikasih project.”
Raka sadar.
Comparison membuat kerja tim berubah menjadi scoreboard.
Itu berbahaya.
Karena orang mulai menahan informasi.
Takut membantu orang lain.
Takut memberi credit.
Semua dianggap saingan.
Padahal kemampuan kolaborasi justru sering menjadi syarat naik level.
Bikin scoreboard sendiri
Santi menyarankan sesuatu.
“Daripada lo ngitung Aldi, bikin scorecard lo sendiri.”
Raka menulis tiga target setahun:
memimpin satu project end-to-end,
mengambil satu keputusan yang berdampak lintas fungsi,
dan membangun satu skill yang bisa dipakai di pasar.
Sekarang progress punya ukuran.
Tidak sepenuhnya bergantung pada title.
Kalau promosi datang, bagus.
Kalau belum, aset karier tetap bertambah.
Rasa iri juga bisa jadi data
Iri tidak selalu harus dipadamkan.
Kadang ia menunjukkan sesuatu yang kita inginkan.
Raka bertanya ke diri sendiri:
kenapa promosi Aldi mengganggu?
Jawabannya bukan karena ingin jabatannya.
Dia ingin pengakuan.
Ingin merasa bergerak.
Ingin scope lebih besar.
Itu insight.
Sekarang dia bisa membicarakan kebutuhan nyata.
Bukan sekadar “gue pengen promoted”.
Jangan kejar promosi yang sebenarnya tidak cocok
Ada orang yang kuat sebagai individual contributor.
Tidak ingin manage tim.
Tapi melihat teman jadi manager lalu merasa harus ikut.
Akhirnya menerima posisi yang isinya sebagian besar people management.
Tidak bahagia.
Jadi sebelum mengejar level, baca pekerjaan di balik level.
Apakah suka memberi feedback?
Menyelesaikan konflik?
Mengalokasikan resource?
Menanggung keputusan orang lain?
Kalau tidak, mungkin jalur expert lebih cocok, jika tersedia.
Karier tidak harus selalu menjadi manajer.
Timeline karier memang tidak sinkron
Ada teman yang naik cepat lalu stagnan.
Ada yang lama di level awal lalu melompat.
Ada yang pindah industri.
Ada yang berhenti kerja sementara.
Ada yang membangun bisnis.
Membandingkan satu titik waktu membuat semua terlihat seperti lomba.
Padahal lintasannya berbeda.
Raka dan Aldi masuk kerja di tahun yang sama.
Lima tahun kemudian, pekerjaan mereka hampir tidak bisa dibandingkan.
Satu memimpin tim.
Satu membangun expertise lintas fungsi.
Siapa lebih maju?
Pertanyaan itu makin tidak berguna.
Tetap boleh kecewa
Satu hal penting: jangan memaksa positivity.
Kalau sudah bekerja keras dan promosi tidak datang, kecewa wajar.
Kalau teman naik lebih dulu, rasa tertinggal wajar.
Yang tidak sehat adalah membiarkan emosi itu memimpin keputusan.
Jangan resign impulsif.
Jangan ambil semua kerjaan.
Jangan menjatuhkan teman.
Jangan menjauh dari orang karena keberhasilannya mengganggu ego.
Beri emosi tempat.
Lalu kembali ke data.
Jangan menjadikan umur sebagai deadline jabatan
Ada kalimat yang sering membuat tekanan lebih buruk.
“Umur 30 harusnya udah manager.”
Harus menurut siapa?
Raka pernah melihat thread seperti itu dan langsung menghitung.
Dua tahun lagi.
Santi menatapnya.
“Lo mau jadi manager karena pengen kerjaannya atau karena angka 30?”
Raka tertawa pahit.
“Pertanyaan lo selalu nggak enak.”
Umur memang relevan untuk banyak keputusan hidup.
Tapi title kantor tidak punya kalender universal.
Industri berbeda.
Ukuran perusahaan berbeda.
Ada startup yang memberi title cepat.
Ada perusahaan multinasional yang levelnya lebih panjang.
Ada profesi yang jalur senioritasnya teknis.
Membuat umur menjadi deadline bisa mendorong orang mengambil title yang tidak cocok hanya untuk mengejar simbol.
Kompensasi dan title bisa bergerak berbeda
Teman yang dipromosikan belum tentu mendapat lompatan gaji besar.
Sebaliknya, seseorang bisa mendapat kenaikan kompensasi tanpa title berubah.
Kalau rasa tertinggal sebenarnya finansial, jangan menyamarkannya menjadi kebutuhan title.
Tanyakan langsung:
apakah kompensasi gue masih kompetitif?
Kalau yang kurang adalah scope, fokus ke scope.
Kalau yang kurang pengakuan, bahas recognition.
Satu kata “promosi” sering menampung terlalu banyak kebutuhan berbeda.
Semakin spesifik kebutuhannya, semakin baik negosiasinya.
Teman yang sukses bisa memicu keputusan buruk di saat yang salah
Raka sempat membuka portal lowongan malam setelah melihat postingan Aldi.
Dia menyimpan tujuh posisi.
Besok pagi, enam terasa tidak relevan.
Santi berkata:
“Bagus lo nggak apply jam satu pagi.”
Keputusan karier besar sebaiknya tidak dibuat pada puncak comparison.
Beri jeda.
Dua atau tiga hari.
Lalu baca lagi.
Apakah tetap ingin pindah?
Apakah masalah kerja memang nyata?
Apakah ada jalur internal?
Kalau setelah emosi turun jawabannya masih sama, itu data yang lebih kuat.
Jangan minta teman mengecilkan keberhasilannya
Ada orang yang karena iri mulai menjauh.
Tidak memberi selamat.
Mengubah topik.
Atau menyindir:
“Ah title doang.”
Ini merusak hubungan yang mungkin sangat berharga.
Raka memilih jujur ke dirinya, bukan ke Aldi dengan cara yang membebani.
Dia tetap mengucapkan selamat.
Tetap bertanya pengalaman.
Tetap menjaga relasi.
Emosi iri adalah tanggung jawabnya untuk diolah.
Bukan tugas Aldi untuk mengecilkan pencapaiannya supaya Raka nyaman.
Ukur progress dengan jarak dari diri sendiri
Raka membuka CV dua tahun lalu.
Dia hampir tidak mengenali isinya.
Dulu belum pernah pegang stakeholder lintas fungsi.
Belum memahami data.
Belum pernah memimpin satu project.
Sekarang semua ada.
Santi bertanya:
“Kalau dibanding Raka dua tahun lalu?”
“Jauh.”
“Nah. Itu benchmark yang paling susah dimanipulasi.”
Perbandingan ke diri sendiri bukan alasan menutup mata dari pasar.
Tapi ia memberi perspektif.
Kadang kita merasa diam hanya karena orang lain berlari di jalur yang terlihat.
Raka akhirnya mendapat percakapan yang dia butuhkan
Di one-on-one berikutnya, dia berkata:
“Saya ingin membahas jalur saya ke level berikutnya. Bukan hanya title, tapi scope yang perlu saya tunjukkan.”
Atasannya membuka beberapa poin.
“Kalau kamu ingin ke senior, saya butuh lihat lebih banyak ownership lintas fungsi.”
“Project apa yang bisa saya ambil?”
Mereka memilih satu.
Tidak ada janji promosi langsung.
Tapi ada langkah.
Raka keluar meeting dan mengirim pesan ke Santi.
“Udah ada target.”
Santi menjawab:
“Bagus.”
“Belum promoted.”
“Ya jangan upload LinkedIn dulu.”
Raka tertawa.
Beberapa bulan kemudian, notifikasi LinkedIn muncul lagi.
Teman lain naik jabatan.
Raka melihat.
Masih ada rasa kecil.
Tapi kali ini tidak menusuk.
Karena dia tidak lagi berdiri diam sambil menghitung siapa yang lewat.
Dia punya jalurnya sendiri.
Dan itu jauh lebih berguna daripada menang lomba yang sebenarnya tidak pernah disepakati.
