“Barang gue datang, tapi isinya salah.”
Pesan itu masuk ke grup keluarga pukul 20.13.
Dewi mengirim foto paket yang baru dibuka. Dia pesan sepatu. Yang datang model lain, ukuran juga beda.
Adiknya, Fikri, membalas cepat.
“Ajukan refund aja.”
“Udah.”
Lima menit kemudian ponsel Dewi bergetar. Ada WhatsApp dari nomor tidak dikenal.
Halo Kak, kami dari tim refund marketplace. Terkait laporan produk tidak sesuai, proses pengembalian dana bisa kami bantu percepat.
Dewi menatap layar.
“Cepet amat.”
Fikri yang sedang video call dengannya langsung bilang, “Jangan seneng dulu.”
“Dia tahu gue baru komplain.”
“Nah. Itu justru bikin meyakinkan.”
Scam refund termasuk modus yang berbahaya karena pelaku tidak selalu menciptakan masalah fiktif. Kadang korban memang sedang punya transaksi bermasalah.
Barang belum datang.
Produk rusak.
Pesanan salah.
Refund tertahan.
Akun terkena kendala.
Karena masalahnya nyata, pesan palsu terasa seperti kelanjutan proses yang sah.
Di sinilah jebakannya.
Penipu memakai konteks yang sudah membuat korban emosional.
Bukan cuma panik. Bisa juga kesal, capek, malu, atau ingin uang cepat kembali.
“Tapi dia tahu nomor pesanan gue”
Dewi memperbesar screenshot chat.
“Dia nyebut nama gue.”
Fikri menjawab, “Nama doang belum bukti.”
“Nomor order juga.”
“Dapat dari mana?”
Pertanyaan itu tidak selalu punya jawaban yang langsung kelihatan.
Informasi bisa bocor dari banyak arah. Bisa dari oversharing, percakapan publik, akun palsu yang memancing data, kebocoran lama, atau korban sendiri tanpa sadar memberi petunjuk.
Yang harus diingat: mengetahui sebagian data transaksi tidak otomatis membuktikan seseorang bekerja untuk marketplace.
Penipu justru sering memakai potongan informasi yang benar untuk membuat permintaan berikutnya terasa wajar.
Misalnya:
“Kami perlu verifikasi rekening.”
“Silakan isi form refund.”
“Masukkan kode OTP.”
“Klik tautan pencairan.”
“Bayar biaya admin, nanti otomatis dikembalikan.”
“Share screen agar kami bantu.”
Pada titik itu, masalah awal yang tadinya cuma sepatu salah ukuran berubah menjadi risiko rekening.
Refund asli seharusnya bisa dilacak dari dalam sistem
Fikri menyuruh Dewi membuka aplikasi marketplace.
“Status komplainnya apa?”
“Masih diproses.”
“Di situ ada chat dari admin?”
“Nggak ada.”
“Nah.”
Proses tiap marketplace tidak identik. Tapi ada prinsip yang cukup aman: kalau transaksi dan komplain dimulai di platform, cek dulu seluruh jejak proses di dalam platform itu.
Lihat pusat resolusi.
Lihat notifikasi resmi.
Lihat halaman pesanan.
Lihat chat resmi.
Lihat metode pengembalian dana yang tercantum.
Jangan membiarkan pihak yang muncul dari luar platform mengambil alih alur tanpa verifikasi.
Kalau seseorang mengaku dari marketplace tetapi meminta kamu keluar dari sistem, pindah ke WhatsApp pribadi, membuka link asing, atau melakukan transfer, itu alasan kuat untuk berhenti.
“Dia bilang refund nggak bisa masuk kalau rekening belum diverifikasi,” kata Dewi.
“Verifikasi di aplikasinya, bukan di link dia.”
Kalimat ini terdengar simpel, tapi saat orang sedang menunggu uang kembali, logika bisa berubah jadi, “Ya sudah, asal cepat.”
Scammer paham itu.
Masalah nyata memberi scammer bahan dialog yang bagus
Penipuan refund tidak butuh script terlalu rumit.
Pelaku cuma perlu membuat korban merasa dia sedang bicara dengan orang yang memahami kasusnya.
“Pesanannya sepatu warna hitam, benar Kak?”
“Benar.”
“Nominal pengembalian sekian?”
“Benar.”
“Baik, tinggal tahap pencairan.”
Tiga jawaban benar di awal membuat permintaan keempat terasa benar juga.
Ini efek yang perlu dilawan.
Setiap permintaan sensitif harus dinilai sendiri.
Bukan karena tiga informasi sebelumnya cocok, berarti permintaan OTP berikutnya boleh dipercaya.
Dewi membaca pesan selanjutnya.
Untuk memastikan rekening penerima aktif, mohon transfer nominal kecil ke rekening verifikasi. Dana akan dikembalikan bersamaan dengan refund.
Dia diam dua detik.
Fikri langsung membaca ekspresinya.
“Dia minta transfer?”
“Iya.”
“Stop.”
“Nanti katanya dibalikin.”
“Kalau untuk ngembaliin duit lo, kenapa lo disuruh kirim duit dulu?”
Dewi tertawa pendek.
“Kalau diomongin keras jadi absurd ya.”
Sering begitu.
Scam lebih kuat ketika dibaca sendirian, dalam suasana terburu-buru.
Begitu dijelaskan ke orang lain, logikanya mulai kelihatan bolong.
Refund bukan hadiah, jadi jangan diperlakukan seperti klaim hadiah
Ada perbedaan mental yang penting.
Refund adalah pengembalian dana dari transaksi yang punya jejak.
Harus ada pesanan.
Ada mekanisme komplain.
Ada status.
Ada pihak penjual atau platform.
Ada metode pengembalian.
Kalau proses tiba-tiba berubah menjadi ritual di luar sistem, seperti transfer manual, instal aplikasi, mengisi data kartu lengkap, atau menyebut OTP, jangan anggap itu bagian normal dari refund hanya karena orang di seberang chat memakai logo marketplace.
OJK dan aparat juga terus mengingatkan soal scam e-commerce. Pada operasi lintas negara yang diumumkan OJK pada Mei 2026, penipuan belanja daring termasuk modus yang menjadi target penindakan bersama. Artinya, ini bukan problem kecil yang sudah basi. Ekosistem scam terus memakai transaksi digital sebagai pintu masuk.
Jangan percaya screenshot “refund berhasil”
Setelah Dewi berhenti membalas, nomor itu mengirim gambar.
Ada logo.
Ada tulisan REFUND SUCCESS.
Ada nominal.
Ada nama Dewi.
“Ini kelihatan resmi,” katanya.
Fikri menghela napas.
“Cek rekening.”
“Belum masuk.”
“Ya sudah.”
Screenshot adalah gambar. Bukan saldo.
Di era ketika gambar bisa diedit dalam hitungan menit, bahkan bukti visual yang terlihat rapi harus dikonfirmasi pada sumber transaksi.
Kalau seseorang bilang uang sudah dikirim, cek mutasi atau notifikasi resmi dari layanan keuangan.
Kalau marketplace bilang refund selesai, cek status di aplikasi.
Jangan membalas “sudah masuk” hanya karena dikirimi gambar.
Prinsip ini berlaku dua arah. Penjual juga jangan menganggap screenshot transfer sebagai bukti final tanpa mengecek saldo atau mutasi.
Kalau akun palsu mendekati setelah kita komplain publik
Ada satu situasi yang makin umum di kota besar: orang meluapkan komplain di media sosial.
“Admin, tolong dong refund saya sudah seminggu.”
Beberapa menit kemudian akun mirip brand muncul.
“Mohon cek DM, Kak.”
Lalu akun lain.
“Silakan hubungi nomor bantuan berikut.”
Yang paling cepat merespons belum tentu pihak resmi.
Kalau kamu harus komplain publik, kurangi detail sensitif.
Jangan menaruh nomor pesanan lengkap, nomor telepon, alamat, rekening, atau data lain yang bisa dipakai orang untuk menyusun percakapan palsu.
Kalau ada akun menghubungi, cek username, centang verifikasi bila relevan, riwayat akun, dan terutama apakah akun tersebut tercantum di situs atau aplikasi resmi.
Dewi akhirnya membuka akun marketplace yang benar.
“Yang DM gue tadi beda satu huruf.”
“Ya.”
“Gue nggak ngeh.”
“Karena lo lihat display name, bukan handle.”
Detail kecil sering jadi pembeda.
Kalau sudah terlanjur klik
Tidak semua klik berakhir dengan rekening kosong. Tapi jangan menunggu gejala.
Kalau sudah memasukkan password di halaman mencurigakan, ubah password dari aplikasi atau situs resmi.
Kalau password yang sama dipakai di layanan lain, ganti juga.
Aktifkan autentikasi tambahan.
Keluar dari sesi yang tidak dikenal jika fitur tersedia.
Kalau pernah memberikan OTP, PIN, atau data kartu, segera hubungi lembaga keuangan terkait melalui kanal resmi.
Periksa transaksi.
Simpan bukti.
Kalau ada kerugian finansial, lapor secepat mungkin ke bank atau penyedia jasa pembayaran dan gunakan jalur pelaporan resmi. Untuk penipuan transaksi keuangan, IASC OJK adalah salah satu kanal nasional yang relevan. Pastikan masuk ke situs IASC resmi, bukan situs yang dikirim oleh pihak yang mengaku “membantu pengembalian dana”.
Lucunya pahit: scam refund bisa berlanjut menjadi scam pemulihan dana.
Korban yang sudah kehilangan uang lalu ditawari “jasa pengembalian” palsu.
Jadi setelah kejadian, rasa ingin uang kembali juga perlu dijaga supaya tidak menjadi pintu scam kedua.
Satu kebiasaan lain yang berguna adalah memisahkan “status transaksi” dari “orang yang menghubungi”.
Kalau refund memang sedang diproses, status itu harus bisa kamu temukan tanpa bergantung pada orang asing yang masuk lewat WhatsApp.
Coba tutup chat.
Taruh ponsel sebentar.
Buka aplikasi marketplace dari ikon yang biasa kamu gunakan.
Masuk ke pesanan.
Lihat pusat bantuan.
Kalau informasi yang disampaikan si “admin” tidak muncul di sana, jangan berasumsi sistemnya telat. Justru anggap ada sesuatu yang perlu diverifikasi.
Dewi mencoba pola itu.
“Di aplikasi nggak ada instruksi transfer.”
“Ya sudah,” kata Fikri.
“Di chat dia bilang sistemnya beda.”
“Semua scammer juga bisa bilang sistemnya beda.”
Kalimat “ini prosedur khusus” sering dipakai untuk membuat korban menerima proses yang tidak tercantum di kanal resmi.
Prosedur khusus.
Jalur percepatan.
Verifikasi manual.
Rekening sementara.
Nama-nama itu terdengar administratif, sehingga korban merasa sedang masuk ke back office yang tidak kelihatan dari aplikasi.
Padahal konsumen tidak perlu memahami seluruh sistem internal perusahaan untuk menjaga diri.
Kita cuma perlu tahu bahwa tindakan sensitif harus punya dasar yang bisa diverifikasi.
Kalau proses refund asli memang membutuhkan langkah tambahan, konfirmasikan langkah itu lewat pusat bantuan resmi yang kamu buka sendiri.
Jangan meminta penipu membuktikan dirinya benar. Pindahkan verifikasi ke tempat yang dia tidak kuasai.
Bikin aturan keluarga: refund tidak pernah diselesaikan dalam panik
Video call Dewi belum ditutup.
Ibunya ikut masuk ke ruang keluarga.
“Kenapa?”
“Sepatunya salah, terus ada yang ngaku admin.”
Ibunya melihat layar.
“Sudah dapat duitnya?”
“Belum.”
“Ya jangan kirim duit lagi.”
Fikri ketawa.
“Nah, inti artikelnya keluar.”
Dewi memelototinya.
Tapi ibunya benar.
Untuk banyak kasus, aturan sederhana justru paling kuat.
Kalau sedang menunggu uang kembali, jangan malah mengirim uang.
Kalau diminta OTP, stop.
Kalau diminta instal aplikasi, stop.
Kalau alur pindah ke nomor pribadi tanpa verifikasi, stop.
Kalau ada tekanan, ambil jeda.
Kalau bingung, minta orang lain melihat pesan itu.
Jeda dua menit bisa menyelamatkan keputusan yang nilainya jauh lebih besar.
Malam itu Dewi tetap harus mengurus sepatu yang salah. Masalah aslinya belum selesai.
Dia masih harus menunggu proses komplain resmi.
Masih harus bungkus ulang barang.
Masih harus mengikuti instruksi retur.
Ribet, iya.
Tapi setidaknya masalahnya tetap satu.
Sepatu salah.
Bukan sepatu salah plus rekening bermasalah.
Sebelum menutup video call, Fikri bilang, “Kalau refund resmi masuk, kabarin.”
Dewi menjawab, “Kalau ada nomor asing ngaku admin lagi?”
“Forward ke gue.”
“Terus?”
“Biar gue bilang, ‘Mas, refund-nya lewat aplikasi aja. Kita semua capek.’”
