Layar video call menyala. Wajahnya benar. Suaranya juga familiar. Ada sedikit noise, koneksi seperti sedang jelek, tapi itu bukan hal aneh. Jakarta saja kadang bisa membuat panggilan putus nyambung dari satu gedung ke gedung sebelah.
Lalu orang di layar bilang ada urusan mendesak. Minta transfer. Sekarang.
Insting pertama banyak orang sederhana: kalau cuma chat, gue masih curiga. Tapi ini video call. Gue lihat mukanya sendiri.
Masalahnya, standar itu sudah tidak cukup kuat.
Pada 2026, bank dan regulator di Indonesia makin sering memasukkan deepfake, peniruan suara, dan manipulasi identitas berbasis AI ke dalam edukasi antifraud. BCA, misalnya, mengingatkan bahwa AI dapat dipakai untuk menirukan suara bahkan visual wajah seseorang. Artinya, “gue lihat dan dengar dia” sebaiknya diperlakukan sebagai sinyal, bukan bukti final, terutama ketika percakapan berujung pada uang, password, OTP, atau akses akun.
Kita tidak perlu menjadi ahli forensik video. Justru itu inti perlindungannya.
Kalau keamanan bergantung pada kemampuan mata mendeteksi deepfake, kita sudah memilih permainan yang salah.
Jangan adu mata dengan teknologi
Ada banyak artikel yang mengajarkan tanda visual deepfake: kedipan janggal, gerakan bibir tidak sinkron, cahaya wajah aneh, tepi rambut bergetar, suara terlalu datar, atau ekspresi yang terasa “off”. Pengetahuan itu boleh berguna, tetapi jangan dijadikan benteng utama.
Alasannya sederhana. Kualitas manipulasi berubah cepat. Koneksi video yang buruk juga bisa menghasilkan artefak yang mirip. Wajah orang asli bisa terlihat aneh karena kamera, filter, kompresi, atau pencahayaan. Sebaliknya, manipulasi yang bagus bisa lolos dari inspeksi kasual selama percakapan singkat.
Kalau seseorang meminta uang, yang perlu diverifikasi adalah transaksinya dan identitasnya melalui jalur independen, bukan kualitas render wajahnya.
Bayangkan ada permintaan transfer dari kerabat. Alih-alih menatap layar sambil mencari apakah bibirnya sinkron, putuskan panggilan secara wajar. Lalu telepon kembali nomor yang sudah tersimpan sejak lama. Jangan gunakan nomor baru yang dikirim oleh orang di video. Kalau konteksnya kantor, cek melalui kanal kerja resmi atau orang kedua yang memang mengetahui transaksi.
Deepfake menjadi jauh kurang berguna ketika pelaku tidak bisa mengendalikan semua jalur verifikasi.
Verifikasi uang, bukan cuma orang
Salah satu pergeseran paling penting adalah memisahkan dua pertanyaan:
“Apakah ini benar orang yang gue kenal?”
dan
“Apakah transaksi ini benar dan boleh dilakukan?”
Keduanya berbeda.
Bahkan jika orang di video call benar-benar asli, permintaan uang masih bisa salah, terburu-buru, atau melanggar prosedur. Akunnya mungkin sedang diambil alih di kanal lain. Dia mungkin menerima informasi palsu dari pihak ketiga. Karena itu, sistem yang baik tidak berhenti pada identitas.
Untuk keluarga, verifikasi bisa berarti memastikan tujuan transfer, nama penerima, hubungan penerima dengan situasi, dan apakah permintaan tersebut cocok dengan informasi yang diketahui anggota keluarga lain.
Untuk kantor, cek purchase order, invoice, rekening vendor yang tersimpan, approval, dan riwayat perubahan data. Perubahan rekening adalah momen yang layak mendapat pemeriksaan tambahan. Jangan menjadikan video call sebagai pengganti prosedur keuangan.
Bila nominal besar atau konteksnya tidak biasa, gunakan persetujuan dua orang. Ini bukan tanda tidak percaya pada rekan. Ini desain sistem supaya satu identitas yang dipalsukan tidak cukup untuk memindahkan uang.
“Tanya sesuatu yang cuma dia tahu” membantu, tapi ada batasnya
Keluarga sering punya ide membuat pertanyaan rahasia. Konsepnya masuk akal: kalau wajah dan suara bisa ditiru, tanyakan sesuatu yang hanya diketahui orang asli.
Masalahnya, banyak “rahasia” ternyata bukan rahasia.
Tanggal lahir, nama sekolah, tempat liburan, nama pasangan, nama hewan peliharaan, mobil pertama, atau restoran favorit bisa pernah muncul di media sosial, percakapan yang bocor, atau akun yang sudah diambil alih.
Kalau mau memakai kode keluarga, buat sesuatu yang tidak dipublikasikan dan jangan digunakan untuk semua kondisi. Lebih penting lagi, jangan jadikan satu jawaban sebagai izin otomatis untuk transfer.
Kode rahasia sebaiknya hanya salah satu lapisan.
Lapisan lain tetap ada: panggilan balik ke nomor yang dikenal, konfirmasi ke anggota keluarga lain, cek tujuan pembayaran, dan jeda sebelum transaksi.
Di kantor, pendekatannya bahkan lebih sederhana. Tidak perlu kuis masa kecil bos. Ikuti prosedur. Rekening vendor berubah? Verifikasi ke kontak vendor yang sudah ada di database. Permintaan “rahasia” dari direktur untuk transfer cepat? Libatkan finance lead atau approver kedua sesuai policy.
Prosedur yang konsisten biasanya lebih tahan terhadap manipulasi daripada improvisasi yang bergantung pada kepintaran seseorang saat panik.
Waspadai saat video call sengaja dibuat sulit
Ada pola psikologis yang perlu diperhatikan: pelaku tidak harus membuat video sempurna jika dia berhasil membuat korban tidak punya waktu untuk memeriksanya.
Panggilan bisa singkat. “Gue lagi masuk meeting.”
Kamera bisa sebentar menyala lalu mati. “Sinyal jelek.”
Pertanyaan detail bisa dipotong. “Nanti gue jelasin, transfer dulu.”
Tekanan waktu mengurangi kesempatan otak membandingkan hal-hal yang tidak cocok. Inilah kenapa urgensi sering menjadi bagian penting dari scam, baik memakai AI maupun tidak.
Kalau permintaan uang disertai alasan kenapa kita tidak boleh melakukan verifikasi normal, itu bukan alasan untuk menurunkan standar. Itu alasan untuk menaikkannya.
Kalimat yang berguna sangat sederhana:
“Gue cek dulu lewat jalur biasa.”
Orang asli yang sedang butuh bantuan mungkin kesal karena lambat. Tapi proses verifikasi masih masuk akal. Penipu jauh lebih bergantung pada momentum.
Jangan bagikan bahan bakar tambahan selama panggilan
Ada risiko lain ketika orang merasa sedang berbicara dengan pihak yang dikenal: percakapan menjadi sumber data.
Kita spontan menyebut nama lengkap, posisi kantor, nomor rekening, tanggal lahir, alamat, detail proyek, atau informasi anggota keluarga. Kalau panggilan ternyata palsu, data itu bisa dipakai untuk tahap berikutnya.
Karena itu, saat ada panggilan yang tidak biasa, hindari “membantu” penelepon membuktikan identitasnya.
Contoh buruk:
“Ini soal pembayaran vendor yang kemarin, yang rekeningnya BCA atas nama PT X itu, kan?”
Kita baru saja memberi konteks yang bisa dipantulkan kembali oleh pelaku.
Lebih baik minta dia menyebutkan detail yang seharusnya dia ketahui, lalu tetap verifikasi lewat kanal lain.
Jangan pernah membagikan PIN, OTP, password, CVV, kode pemulihan, atau memberi akses remote ke perangkat hanya karena wajah di layar terlihat familiar. Bank Mandiri, BRI, dan BCA sama-sama menekankan bahwa data autentikasi semacam itu harus dirahasiakan. Pihak yang mengaku bank tidak membutuhkan OTP atau PIN untuk “membatalkan transaksi” lewat telepon.
Kalau video call datang dari “bank”, standar harus lebih ketat lagi
Video memberi efek psikologis kuat. Kita terbiasa menganggap wajah berseragam, logo, latar kantor, atau nama institusi sebagai bukti profesionalitas.
Padahal logo bisa disalin. Seragam bisa dipakai siapa saja. Background virtual bisa dibuat dalam menit. Identitas yang muncul di aplikasi panggilan juga bukan sertifikat keaslian.
Kalau seseorang mengaku dari bank dan menyampaikan ada transaksi mencurigakan, jangan menyelesaikan proses keamanan di panggilan itu. Tutup. Buka aplikasi bank atau kontak resmi yang kita cari sendiri. Periksa mutasi atau notifikasi dari kanal resmi.
BCA dalam panduan antifraud 2026 menyarankan nasabah menghubungi kanal resminya jika merasa menjadi korban. BRI juga menegaskan pada Juli 2026 bahwa mereka tidak pernah meminta PIN, OTP, username, atau password melalui telepon, WhatsApp, SMS, email, maupun media sosial.
Prinsipnya bisa diperluas ke institusi lain: jika isu penting, institusi yang sah tetap bisa diverifikasi dari kanal resminya. Kita tidak perlu mempertaruhkan uang hanya karena takut memutus panggilan.
Setelah terlanjur transfer, waktu lebih penting daripada malu
Jika baru sadar bahwa panggilan mungkin palsu setelah uang terkirim, jangan menunggu sampai semua teka-teki terjawab.
Segera hubungi bank atau penyedia pembayaran. Simpan rekaman atau screenshot jika ada, catat nomor, waktu panggilan, rekening penerima, bukti transfer, dan percakapan terkait. Laporkan transaksi melalui jalur IASC dan lakukan pelaporan kepolisian untuk proses hukum sesuai kebutuhan.
Data OJK menunjukkan skala yang besar. Sampai 30 Juni 2026, IASC telah menerima 608.167 laporan. Dana korban yang berhasil diblokir tercatat Rp674,1 miliar, dan Rp196,93 miliar telah dikembalikan kepada korban dari rekening di 19 bank. Angka ini tidak berarti setiap laporan berakhir dengan pemulihan dana. IASC sendiri menekankan bahwa kecepatan pelaporan penting karena dana bisa dipindahkan melalui rekening berlapis dalam waktu singkat.
Kalau selama panggilan juga sempat memberikan kredensial, ubah dari perangkat yang aman dan hubungi penyedia akun. Kalau sempat memasang aplikasi atau mengaktifkan screen sharing, perlakukan perangkat sebagai berisiko sampai diperiksa.
Kebiasaan baru: wajah boleh meyakinkan, proses yang memutuskan
Tidak realistis kalau setiap video call dari teman harus diperlakukan seperti ujian forensik. Kita tetap perlu hidup normal.
Batasnya bisa dibuat berdasarkan risiko.
Ngobrol soal makan malam? Wajah dan suara cukup untuk konteks sosial.
Minta transfer mendadak? Tambah verifikasi.
Minta OTP atau password? Berhenti.
Minta mengubah rekening vendor? Gunakan prosedur formal dan approval kedua.
Minta merahasiakan transaksi dari orang lain? Naikkan kewaspadaan lagi.
Ada satu latihan yang layak dilakukan sebelum keadaan darurat datang: tentukan dari sekarang siapa yang menjadi orang kedua untuk verifikasi transfer keluarga atau transaksi kantor tertentu. Saat semua orang tenang, aturan itu terasa berlebihan. Saat telepon mendadak masuk di tengah perjalanan, rapat, atau antrean, aturan yang sudah disepakati mengurangi kebutuhan mengambil keputusan dari nol. Kita tinggal mengikuti proses, bukan berdebat dengan rasa panik.
Teknologi deepfake mengubah satu hal besar dalam kehidupan sehari-hari: bukti yang dulu terasa kuat sekarang bisa diproduksi.
Solusinya bukan panik setiap melihat video. Solusinya membuat keputusan finansial tidak bergantung pada satu jenis bukti.
Suatu hari nanti mungkin wajah sintetis semakin sulit dibedakan dari wajah asli. Itu tidak perlu membuat kita kalah. Selama uang hanya bergerak setelah ada verifikasi independen, pelaku harus menembus lebih dari sekadar kamera.
Dan kadang pertahanan terbaik terhadap video yang sangat meyakinkan cuma satu tindakan yang terasa sedikit tidak sopan: tutup panggilannya, lalu telepon balik sendiri.
