“Kalau kena scam, lapornya ke mana?”
Pertanyaan itu dilempar Rafi di meja makan kantor tanpa konteks.
Sinta sedang membuka kotak bekal.
“Polisi?”
“Bank?”
“Komdigi?”
“Marketplace kalau scam-nya dari marketplace?”
Rafi mengangguk.
“Nah. Gue juga baru sadar banyak orang tahu modus scam, tapi nggak tahu jalur lapornya.”
Beni ikut nimbrung.
“Kalau uang udah transfer bukannya selesai?”
“Justru belum tentu,” kata Rafi.
Di sinilah Indonesia Anti-Scam Centre atau IASC menjadi makin relevan.
IASC dibentuk OJK bersama anggota Satgas PASTI dan didukung industri perbankan serta sistem pembayaran untuk mempercepat penanganan penipuan transaksi keuangan. IASC mulai beroperasi pada 22 November 2024.
Sampai 31 Juli 2026, OJK mencatat IASC telah menerima 637.055 laporan pengaduan. Ada 1.179.881 rekening yang dilaporkan masyarakat, dengan 607.210 rekening telah diblokir. Dana korban yang diblokir mencapai Rp724,1 miliar, dan Rp204,3 miliar telah berhasil dikembalikan.
Angka itu bukan berarti setiap laporan berakhir dengan uang kembali.
FAQ resmi IASC justru menegaskan bahwa pelaporan tidak menjamin dana pasti kembali.
Nilai utama IASC ada pada kecepatan koordinasi.
Ketika scam baru terjadi, dana bisa bergerak dari satu rekening ke rekening lain dalam waktu singkat. Sistem perlu menerima laporan secepat mungkin supaya ada peluang menunda transaksi dan menelusuri aliran dana.
Sinta berhenti makan.
“Jadi bukan tempat curhat habis ketipu?”
“Bukan. Ini jalur penanganan finansial.”
“Kenapa gue baru tahu?”
Itu masalahnya.
Kita sering belajar jalur darurat setelah darurat terjadi.
IASC sebaiknya dikenal sebelum orang butuh
Orang tahu nomor ambulans sebelum kecelakaan.
Tahu lokasi IGD sebelum sakit berat.
Tahu password recovery sebelum akun hilang.
Untuk scam, kebiasaan yang sama masuk akal.
Tidak perlu menghafal seluruh prosedur.
Cukup tahu konsepnya.
Kalau ada penipuan transaksi keuangan, segera hubungi bank atau penyedia jasa pembayaran.
Simpan bukti.
Lapor ke IASC melalui website resmi.
Lanjutkan dengan laporan polisi untuk proses hukum.
Jangan menunggu seminggu karena berharap penipu akan mengembalikan uang.
“Webnya apa?” tanya Beni.
Rafi menjawab, “IASC ada di domain resmi OJK. Kalau lupa, masuk dari situs OJK. Jangan cari nomor random.”
Poin itu penting karena IASC sendiri pernah dicatut oleh penipu.
OJK sudah memperingatkan adanya website dan pihak yang mengatasnamakan IASC. Jadi ketika korban sedang panik, dia tetap perlu memastikan jalur lapor yang digunakan resmi.
Ironis, tapi masuk akal.
Scammer tahu orang yang baru kehilangan uang sedang mencari pertolongan cepat.
Mereka bisa menyamar sebagai “tim pemulihan dana”.
Karena itu, jalur pelaporan harus sudah dikenal sebelum kejadian.
Apa sebenarnya yang dilakukan IASC?
Bayangkan uang scam seperti air yang mengalir melalui beberapa pipa.
Korban mengirim ke rekening A.
Pelaku memindahkan ke B.
Kemudian ke C.
Lalu ke akun pembayaran lain.
Semakin lama, alirannya semakin sulit diikuti dan sisa dana bisa semakin kecil.
IASC menjadi forum koordinasi antara otoritas, bank, penyedia jasa pembayaran, dan pihak terkait untuk mempercepat penanganan laporan.
Tujuan utamanya bukan menghukum pelaku langsung.
Tujuan awalnya adalah sisi finansial: mencoba menahan pergerakan dana, memblokir rekening terkait, dan menelusuri aliran transaksi.
OJK bahkan pernah mengungkap kasus di mana aliran dana scam dibuat sampai tujuh lapisan transaksi, melibatkan puluhan rekening di banyak bank dan penyedia jasa pembayaran.
Jadi konsep “rekening penipu” kadang terlalu sederhana.
Yang dihadapi bisa berupa jaringan rekening yang bergerak cepat.
“Berarti kalau rekening pertama kosong, selesai?” tanya Sinta.
“Belum tentu. Makanya ada penelusuran.”
“Tapi nggak dijamin balik?”
“Nggak.”
Pemahaman ini penting supaya masyarakat punya ekspektasi yang benar.
IASC bukan asuransi kerugian scam.
Bukan jaminan refund.
Bukan customer service yang bisa membatalkan semua transfer.
Ia adalah mekanisme koordinasi yang meningkatkan peluang penanganan cepat.
IASC dan laporan polisi bukan pilihan salah satu
Beni membuka FAQ IASC.
“Ini tulisannya wajib dua-duanya.”
“Ya,” kata Rafi.
FAQ resmi IASC menjelaskan bahwa laporan ke IASC tidak menggantikan laporan polisi.
Fungsinya berbeda.
IASC: penanganan cepat dan pemblokiran di jalur finansial.
Polisi: proses hukum, investigasi, dan penindakan pelaku.
Kalau seseorang hanya melapor ke bank lalu merasa sudah selesai, jalur hukumnya bisa belum berjalan.
Kalau hanya melapor ke polisi tetapi tidak segera mengaktifkan jalur finansial, waktu untuk mencoba menyelamatkan sisa dana bisa terbuang.
Itulah kenapa korban perlu berpikir paralel.
Bukan berurutan terlalu lama.
Bank atau PJP.
IASC.
Polisi.
Kalau scam juga terjadi di platform tertentu, laporkan ke platform.
Kalau nomor telepon digunakan untuk menipu, ada kanal Aduan Nomor dari Komdigi.
Kalau rekening mencurigakan perlu dicek atau dilaporkan, Komdigi juga menyediakan CekRekening.
Setiap kanal punya fungsi berbeda.
Jangan berharap satu laporan otomatis menyelesaikan semuanya.
Siapkan bukti sebelum membuka formulir
Sinta bertanya, “Kalau panik, isi apa?”
“Makanya bukti jangan dihapus.”
Korban perlu menyimpan detail transaksi.
Waktu.
Nominal.
Rekening tujuan.
Nama rekening.
Bukti transfer.
Nomor telepon.
Chat.
Username.
Website.
Email.
Dokumen atau file yang dikirim pelaku.
Semakin rapi bahan awalnya, semakin mudah membuat laporan faktual.
Tidak perlu menulis novel.
Yang dibutuhkan adalah informasi yang membantu identifikasi transaksi dan pihak terkait.
Kalau ada beberapa transfer, catat satu per satu.
Kalau uang berpindah melalui bank dan e-wallet, catat masing-masing kanal.
Kalau korban tidak tahu suatu detail, jangan mengarang hanya untuk membuat laporan terlihat lengkap.
Data yang benar lebih berguna daripada cerita yang dramatis.
IASC juga penting dipahami bukan hanya oleh korban individu.
Keluarga, kantor kecil, komunitas, dan bisnis bisa punya prosedur internal sederhana.
Misalnya perusahaan punya aturan bahwa staf yang menyadari transfer mencurigakan harus segera menghubungi finance dan bank, bukan menunggu rapat esok pagi.
Keluarga punya satu orang yang membantu anggota lansia membuka kanal resmi.
Komunitas punya admin yang tahu cara menghapus nomor penipu dari grup dan menyimpan bukti.
Pengetahuan ini membuat respons tidak bergantung pada siapa yang kebetulan sedang online.
Sinta membuka catatan di ponselnya.
“Kalau orang tua kena, mereka mungkin malah telepon anak dulu.”
“Bagus,” kata Rafi. “Asal anaknya tahu habis itu harus ngapain.”
“Kalau anaknya juga panik?”
“Makanya checklist.”
Di sinilah edukasi anti-scam seharusnya bergerak dari sekadar daftar modus menjadi latihan respons.
Orang tidak mungkin menghafal semua jenis scam baru.
Hari ini tiket.
Besok AI voice.
Lusa customer service palsu.
Minggu depan investasi.
Yang lebih tahan lama adalah prinsip.
Verifikasi kanal.
Jangan serahkan kredensial.
Hentikan transfer saat ada keraguan.
Simpan bukti.
Hubungi penyedia jasa keuangan.
Lapor cepat.
Aktifkan jalur hukum.
Prinsip itu bisa dipakai walaupun modus berganti kostum.
Ada pula perbedaan antara pencegahan dan penanganan yang perlu dijaga.
CekRekening dan Aduan Nomor membantu pada sisi kewaspadaan dan pelaporan informasi tertentu.
IASC menangani penipuan transaksi keuangan.
Polisi menangani proses pidana.
Platform menangani akun atau transaksi di ekosistemnya.
Tidak ada satu institusi yang harus dipaksa menjadi “super app” untuk seluruh masalah scam.
Yang dibutuhkan warga adalah peta jalur.
Rafi akhirnya menyimpan tiga bookmark di browser keluarga.
Situs OJK.
IASC.
Kanal bank yang paling sering dipakai orang tuanya.
“Overkill nggak?” tanya adiknya.
“Kalau nggak pernah dipakai, bagus.”
Itulah satu-satunya layanan yang kita simpan dengan harapan tidak pernah perlu dibuka.
Kenapa laporan cepat terus diulang?
Karena uang bergerak cepat.
OJK berulang kali menekankan hal ini.
Pada 2025, Satgas PASTI menjelaskan bahwa dari pengamatan IASC, dana korban scam bisa hilang relatif sangat cepat. Pada 2026, penguatan koordinasi IASC dengan Bareskrim dan lembaga lain terus dilakukan karena modus penipuan daring semakin kompleks.
Sampai Juni 2026 saja, OJK mencatat lebih dari 608 ribu kasus penipuan di IASC.
Sebulan kemudian, per 31 Juli, jumlah laporan sudah menjadi 637.055.
Itu memberi gambaran skala.
Scam bukan insiden yang hanya terjadi pada orang lain.
Ia sudah menjadi risiko rutin dalam kehidupan digital.
Dari rekening palsu.
Impersonation.
Love scam.
E-commerce scam.
Tiket palsu.
Investasi.
Lowongan kerja.
Pinjaman.
Social engineering.
Teknologinya berubah.
Psikologinya sering sama.
Pelaku ingin korban mengambil keputusan sebelum verifikasi.
IASC bekerja setelah kejadian.
Pertahanan terbaik tetap sebelum transfer.
Jangan salah kaprah: adanya IASC bukan alasan untuk berani mengambil risiko
Beni bercanda.
“Kalau gitu gue transfer aja, nanti kalau scam lapor IASC.”
Sinta langsung menjawab.
“Logika lo kayak ngebut karena ada rumah sakit.”
Tepat.
Sistem penanganan tidak menghapus risiko.
Pemblokiran mungkin terlambat.
Dana mungkin sudah berpindah.
Identitas pelaku mungkin rumit.
Sebagian uang mungkin tidak bisa diselamatkan.
Korban tetap harus melewati proses laporan, dokumentasi, dan kemungkinan proses hukum.
Jadi IASC seharusnya meningkatkan kesiapan, bukan menurunkan kewaspadaan.
Sebelum transfer, verifikasi.
Sebelum klik, cek.
Sebelum memberikan OTP, berhenti.
Sebelum percaya nomor customer service, masuk dari kanal resmi.
Sebelum membayar investasi, cek legalitas.
IASC adalah jaring setelah jatuh.
Lebih baik tetap tidak jatuh.
Bikin satu catatan darurat di keluarga
Rafi membuka grup keluarga.
Dia mengetik:
Kalau ada yang kena scam uang:
1. Stop transfer.
2. Screenshot semua.
3. Hubungi bank/e-wallet resmi.
4. Lapor IASC lewat domain OJK.
5. Lapor polisi.
6. Jangan bayar “jasa balikin uang”.
Ibunya membalas.
“Kenapa tiba-tiba?”
Rafi:
“Biar nggak nyari pas panik.”
Ayahnya:
“Bagus.”
Adiknya:
“Pin message.”
Catatan itu akhirnya dipasang di bagian atas grup.
Kelihatannya sepele.
Tapi banyak keputusan buruk terjadi bukan karena korban sama sekali tidak tahu apa yang benar.
Mereka tahu.
Hanya saja, saat panik, urutan tindakannya hilang.
Punya checklist mengurangi beban berpikir.
Punya alamat kanal resmi mengurangi risiko masuk website palsu.
Punya orang keluarga yang bisa ditelepon mengurangi rasa sendirian.
Punya bukti yang tersimpan mempercepat laporan.
IASC makin relevan karena scam makin cepat dan kompleks
Sore itu, setelah obrolan selesai, Beni masih membuka statistik OJK.
“Enam ratus ribu lebih laporan.”
“Iya.”
“Gila.”
Rafi mengangguk.
Yang mengkhawatirkan bukan cuma jumlahnya.
Modusnya juga makin beragam dan bisa memakai AI, impersonation, rekening money mule, merchant, sistem pembayaran digital, sampai aset virtual.
IASC bukan jawaban tunggal untuk semua itu.
Tetapi ia mengisi satu bagian yang sangat penting: koordinasi cepat ketika uang sudah bergerak.
Kita tidak perlu menunggu menjadi korban untuk tahu cara memakainya.
Simpan pengetahuan itu sekarang.
Bukan karena kita berharap kena scam.
Justru supaya kalau suatu hari layar ponsel menampilkan transaksi yang bikin jantung turun, lima menit pertama tidak habis untuk mengetik di Google:
“habis ketipu harus lapor ke mana?”
