Bantargebang Beralih Bertahap ke Controlled Landfill: Warga Tetap Punya Peran dari Rumah

“Berarti Bantargebang sekarang sudah bukan tempat buang sampah?”

Fajar bertanya sambil menggulung kantong sampah.

Ika, kakaknya, menatap.

“Siapa bilang?”

“Katanya mulai controlled landfill.”

“Controlled landfill bukan sulap.”

Fajar berhenti.

“Jadi apa bedanya?”

Pertanyaan itu masuk akal.

Pada Juli 2026, Pemprov DKI mengumumkan transisi bertahap TPST Bantargebang menuju sistem controlled landfill mulai 1 Agustus 2026. Tahap awal bahkan mulai dikerjakan sejak pertengahan Juli melalui pemasangan media penutup pada area tertentu.

Target besarnya adalah menghentikan praktik open dumping secara bertahap dan meningkatkan pengelolaan yang lebih terkendali.

Tetapi perubahan itu tidak berarti gunungan sampah hilang pada 1 Agustus.

Tidak berarti semua teknologi langsung aktif.

Tidak berarti rumah tangga bebas membuang apa saja karena “hilirnya sudah modern”.

Justru sebaliknya.

Transformasi Bantargebang hanya masuk akal kalau sampah yang dikirim ke sana terus berkurang dan semakin didominasi residu yang memang tidak bisa lagi diolah di hulu atau fasilitas lain.

Controlled landfill bukan versi rapi dari buang sebanyak-banyaknya

Ika membuka artikel resmi di ponsel.

“Lihat ini.”

Fajar membaca.

Pada kuartal kedua 2026, menurut data roadmap yang disampaikan DLH DKI, praktik open dumping masih mencakup porsi besar pengelolaan di Bantargebang, sedangkan bagian sampah yang ditangani melalui berbagai fasilitas pengolahan masih jauh lebih kecil.

“Berarti transisinya berat,” kata Fajar.

“Ya.”

Controlled landfill pada dasarnya meningkatkan pengelolaan timbunan dibanding open dumping, termasuk dengan penutupan sampah secara lebih teratur dan pengendalian aspek lingkungan yang lebih baik.

Pemprov DKI juga menjelaskan tahapan penutupan zona dengan media pelindung yang selanjutnya diperkuat menggunakan geomembrane, penataan kawasan landfill, serta peningkatan porsi residu hasil pengolahan.

Information gain pertama: controlled landfill adalah perbaikan metode penanganan residu, bukan alasan mempertahankan volume sampah masuk.

Kalau jutaan rumah terus mengirim sampah campur dengan jumlah sama, tekanan ke Bantargebang tetap besar.

Teknologi hilir tidak bisa menjadi pembenaran untuk kebiasaan hulu yang tidak berubah.

Fajar melihat kantongnya.

Isinya sisa makanan, kardus, botol plastik, tisu, dan satu baterai bekas.

Ika menunjuk.

“Nah, itu contoh kenapa masalahnya mulai dari rumah.”

“Gue cuma satu orang.”

“Jakarta isinya bukan satu orang.”

Sampah campur membuat semua jalur jadi lebih buruk

Mereka membuka kantong.

Sisa makanan memegang peran antagonis utama.

Kardus sudah basah.

Botol plastik berminyak.

Baterai terselip di bawah.

“Ini kalau dipilah dari awal lebih gampang,” kata Fajar.

“Persis.”

Jakarta pada 2026 mendorong empat kategori pemilahan dari sumber: organik, anorganik, B3 rumah tangga, dan residu.

Tujuannya bukan membuat warga sibuk.

Tujuannya memastikan material masuk ke jalur yang paling masuk akal.

Organik dapat diarahkan ke pengolahan seperti kompos, maggot, atau metode lain sesuai fasilitas.

Anorganik yang punya nilai daur ulang dapat masuk ke bank sampah atau rantai pemulihan material.

B3 rumah tangga membutuhkan penanganan khusus.

Baru residu dikirim untuk penanganan akhir.

Kalau semua dicampur, yang terjadi bukan hanya “sampah jadi bau”.

Nilai material turun.

Pengolahan lebih sulit.

Petugas harus melakukan pemisahan tambahan.

Sebagian yang sebenarnya bisa diselamatkan berubah menjadi residu.

Information gain kedua: volume residu bukan sifat bawaan sampah.

Sebagian residu tercipta karena sistem gagal memisahkan material sejak awal.

Kardus yang bersih mungkin bisa masuk daur ulang.

Kardus yang basah minyak bisa kehilangan jalurnya.

Sisa makanan bisa diolah.

Sisa makanan yang bercampur pecahan kaca dan baterai menjadi problem lain.

Bantargebang menerima hasil dari keputusan-keputusan sebelumnya.

Jauh sebelum truk tiba di Bekasi.

“Berarti residu itu bukan sama dengan semua sampah?” tanya Fajar.

“Nah. Akhirnya.”

Tanggung jawab warga tidak berhenti di bayar iuran sampah

Di kompleks mereka, beberapa warga merasa pengelolaan sampah adalah jasa yang sudah dibayar.

“Kan ada petugas.”

“Kan ada truk.”

“Kan ada TPS.”

Secara layanan, memang ada sistem pengumpulan dan pengangkutan.

Tetapi sistem baru membutuhkan partisipasi rumah tangga.

Kalau petugas diminta memilah semua sampah yang sudah dicampur, kita memindahkan beban paling kotor dan paling rumit ke pekerja.

Padahal warga sebenarnya bisa mencegah pencampuran dalam beberapa detik.

Fajar mulai memisahkan sisa dapur.

“Gini?”

“Iya.”

“Anorganik ini dicuci?”

“Enggak semua harus dicuci sampai steril. Yang penting sesuai kebutuhan penerima, jangan penuh sisa makanan. Cek aturan bank sampah.”

“Baterai?”

“Simpan terpisah dan cari jalur pengumpulan B3.”

“Residu?”

“Yang memang enggak bisa masuk jalur lain.”

Ia menghela napas.

“Kayak kerjaan administrasi.”

“Awal-awal iya. Nanti kebiasaan.”

Sama seperti dulu orang belajar membawa tas belanja.

Atau memisahkan dokumen digital ke folder.

Atau membiasakan pembayaran cashless.

Kebiasaan baru memang terasa menambah langkah sampai otak berhenti menganggapnya baru.

Controlled landfill butuh waktu

Narasi kebijakan sering membuat warga mengharapkan perubahan instan.

Hari pertama diumumkan.

Hari kedua viral.

Hari ketiga orang bertanya kenapa Bantargebang belum berubah total.

Padahal infrastruktur skala sebesar TPST tidak bergerak seperti update aplikasi.

Pemprov DKI menyebut transformasi menuju zero open dumping ditargetkan bertahap sampai 2029.

Ada penutupan zona.

Ada penguatan geomembrane.

Ada penataan landfill.

Ada pengolahan sampah.

Ada pembiayaan.

Ada fasilitas antara.

Ada perubahan sistem pengangkutan.

Ada perubahan perilaku warga.

Seluruh bagian harus bergerak.

Kalau satu tertinggal, bagian lain menanggung.

“Berarti 2029 baru selesai?” tanya Fajar.

“Target road map-nya begitu untuk zero open dumping. Tapi jangan tunggu 2029 buat mulai pilah.”

“Fair.”

Perubahan hilir yang bertahun-tahun justru alasan perubahan hulu harus dimulai sekarang.

Warga mungkin tidak bisa memasang geomembrane.

Tidak bisa membangun RDF.

Tidak bisa mengoperasikan fasilitas pengolahan.

Tetapi warga bisa mengurangi makanan terbuang.

Memisahkan organik.

Menjaga material daur ulang tidak tercemar.

Mengelola B3 rumah tangga dengan benar.

Mengurangi barang sekali pakai.

Memilih ulang pakai.

Itu area kendali yang nyata.

Kenapa penutupan timbunan penting

Fajar masih penasaran.

“Kalau controlled landfill, sampahnya diapain setelah ditaruh?”

Ika menjelaskan sebatas yang mereka baca dari informasi resmi dan konsep umumnya. Timbunan tidak dibiarkan terbuka terus seperti open dumping. Area ditata dan ditutup secara lebih terkendali untuk mengurangi paparan langsung serta membantu pengelolaan dampak lingkungan.

Masalah tempat pemrosesan akhir bukan hanya pemandangan.

Timbunan organik dapat menghasilkan gas.

Air yang melewati timbunan dapat menjadi lindi yang perlu dikelola.

Permukaan terbuka menarik hewan dan menyebarkan bau.

Risiko kebakaran juga harus dikendalikan.

Karena itu perubahan metode landfill punya arti teknis nyata.

Namun justru karena penanganan akhir rumit dan mahal, logikanya kembali ke rumah: jangan kirim material yang sebenarnya masih bisa diolah di tempat lain.

Fajar mengangguk.

“Jadi makin bagus hilirnya, bukan berarti kita boleh makin boros di hulu.”

“Exactly.”

“Sekarang lo juga ngomong exactly?”

“Ketularan.”

Jangan romantisasi Bantargebang sebagai “gunung sampah jauh di sana”

Bagi banyak warga Jakarta, Bantargebang hanya muncul sebagai foto udara.

Truk.

Gunungan sampah.

Burung.

Alat berat.

Padahal kawasan itu berdampingan dengan kehidupan manusia.

Ada pekerja.

Ada warga sekitar.

Ada kualitas udara, air, bau, lalu lintas, dan dampak lingkungan yang harus dikelola.

Semakin jauh sampah dari rumah, semakin mudah kita merasa tidak berhubungan.

Ika mengangkat kantong residu yang sekarang jauh lebih kecil.

“Ini tetap pergi ke sana.”

Fajar mengangguk.

“Dan kita enggak pernah lihat lagi.”

“Makanya mudah lupa.”

Controlled landfill adalah perbaikan penting karena penanganan akhir memang harus lebih aman dan terkendali.

Tetapi keadilan pengelolaan sampah juga berarti warga yang menghasilkan sampah ikut mengurangi beban yang dikirim ke komunitas lain.

Jangan jadikan Bantargebang invisible backend kota.

Ia bukan folder trash di komputer.

Ia tempat nyata.

“Delete” tidak menghapus materi

Fajar bekerja sebagai programmer.

Ika memakai analogi yang sengaja menusuk.

“Lo kalau delete file kan sebenarnya ada sistem storage.”

“Tergantung.”

“Nah. Sampah juga.”

“Analoginya maksa.”

“Tapi lo ngerti.”

Ketika kita memasukkan sampah ke tong, benda fisik tidak hilang.

Ia berpindah.

Dari dapur ke gerobak.

Dari gerobak ke TPS.

Dari TPS ke truk.

Dari truk ke fasilitas atau tempat pemrosesan akhir.

Setiap perpindahan butuh energi, pekerja, lahan, dan biaya.

Kalau benda bisa digunakan ulang, didaur ulang, atau diolah dekat sumber, perjalanan panjang itu bisa dikurangi.

Ini yang membuat konsep pilah-angkut-olah lebih kuat daripada kumpul-angkut-buang.

Kata “olah” mengubah tujuan.

Sistem tidak lagi dirancang semata untuk memindahkan sampah menjauh.

Ia mencoba mendapatkan kembali nilai sebelum sisanya menjadi residu.

Rumah harus tahu jalur lokalnya

Minggu berikutnya, Ika dan Fajar mendatangi kegiatan RT.

Mereka bukan mau ceramah.

Mereka cuma ingin tahu.

Bank sampah buka kapan?

Organik dikumpulkan bagaimana?

Residu jadwalnya apa?

B3 rumah tangga dibawa ke mana?

Ternyata sebagian alur sudah ada, sebagian masih disiapkan.

Ketua RT jujur.

“Kita juga masih adaptasi.”

Jawaban itu lebih sehat daripada pura-pura siap.

Warga kemudian sepakat mencoba pemilahan sederhana dulu.

Setiap rumah diberi panduan.

Petugas diajak bicara.

Jadwal anorganik dibuat.

Untuk organik, beberapa opsi pengolahan lokal sedang diuji.

Tidak sempurna.

Tetapi ada rantai.

Kalau sistem lokal tidak dibangun, empat tong di rumah hanya akan menjadi dekorasi kebijakan.

Agustus 2026 bukan akhir cerita Bantargebang

Suatu malam Fajar selesai makan.

Ia membawa piring ke dapur.

Sisa nasi sedikit masuk organik.

Botol minum dibilas ringan dan masuk wadah anorganik sesuai jalur yang tersedia.

Tisu kotor masuk residu.

Tidak ada dramatisasi.

Tidak ada foto untuk story.

Ika melihat.

“Wah, sudah otomatis.”

“Gue enggak mau dimarahin.”

“Bukan itu tujuannya.”

“Ya sudah, gue enggak mau kardus basah lagi.”

Kebiasaan baru sering masuk lewat alasan sederhana.

Bantargebang sedang menjalani transformasi besar.

Controlled landfill diterapkan bertahap.

Open dumping ditargetkan dihentikan.

Sampah yang dikirim diharapkan makin berupa residu.

Semua itu terdengar seperti proyek hilir.

Tetapi hasil akhirnya sangat bergantung pada apa yang terjadi di jutaan rumah, warung, kantor, restoran, dan gedung sebelum truk bergerak.

Warga tidak mengendalikan alat berat di Bantargebang.

Tapi warga mengendalikan apa yang masuk kantong pertama.

Dan di sistem sampah, kantong pertama sering menentukan seberapa berat masalah di ujung terakhir.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top