Jakarta Ingin Hanya Kirim Residu ke Bantargebang: Perubahan Besarnya Dimulai dari Kebiasaan Kecil

✦ JKT.WEB.ID KNOWLEDGE SYSTEM
◆ FormatPost
↻ Diperbarui23 September 2026
◷ Waktu baca8 menit
✦ KonteksPanduan praktis

“Mulai Agustus Bantargebang cuma residu.”

Andra membaca headline itu sambil sarapan.

Ibunya bertanya,

“Terus sampah lain ke mana?”

Andra berhenti.

Itu pertanyaan yang seharusnya ditanyakan semua orang.

Pada Mei 2026, Pemprov DKI menyatakan mulai 1 Agustus 2026 TPST Bantargebang hanya akan menerima sampah residu. Arah yang diumumkan bahkan lebih jauh: pada 2027 Bantargebang ditargetkan tidak lagi menerima sampah seperti pola lama.

Pemerintah juga mendorong pemilahan dari sumber ke empat kategori: organik, anorganik, B3 rumah tangga, dan residu.

Kalimat kebijakannya singkat.

Implementasinya raksasa.

Karena kalau Bantargebang hanya menerima residu, maka organik harus diolah.

Anorganik harus dipulihkan.

B3 harus punya jalur khusus.

Dan “residu” harus benar-benar berarti bagian yang tersisa setelah upaya pengurangan dan pengolahan.

Bukan nama baru untuk satu kantong campur.

Perubahan besar dimulai saat seseorang memegang kulit pisang.

Bukan saat truk tiba di Bantargebang.

Residu bukan kategori untuk barang yang membingungkan

Andra berdiri di dapur.

“Ini sachet masuk residu?”

Ibunya bertanya,

“Bisa didaur ulang di bank sampah kita?”

“Kayaknya enggak.”

“Nah.”

Mereka cek daftar penerimaan.

Memang tidak diterima.

Masuk residu.

Lalu ada botol.

Anorganik.

Kulit sayur.

Organik.

Baterai.

B3.

Information gain pertama: residu ditentukan oleh ketersediaan jalur pengolahan, bukan hanya material.

Satu jenis plastik mungkin diterima di fasilitas A tetapi tidak di fasilitas B.

Kemasan multilayer mungkin belum punya jalur ekonomis di wilayah tertentu.

Kardus bersih bisa didaur ulang.

Kardus berminyak berat mungkin tidak.

Karena itu, definisi praktis residu harus mengikuti sistem lokal.

Inilah kenapa daftar panduan penting.

Jangan membuat warga menebak.

Kalau sistem berubah, update label.

Kalau vendor berubah, update.

Kalau jenis material baru diterima, beri tahu.

Residu adalah kategori dinamis.

Tujuannya makin kecil.

Bukan tong terbesar.

Organik adalah game changer

Pemprov DKI menyebut hampir separuh timbulan sampah rumah tangga merupakan organik.

Itu membuat organik menjadi target besar.

Kalau organik tetap tercampur, residu akan tetap berat dan basah.

Kalau organik dipisahkan dan diolah, volume yang perlu dikirim jauh turun signifikan.

Andra mulai dari satu kebiasaan.

Tidak beli makanan berlebihan.

Ibunya tertawa.

“Katanya mau ngomong pemilahan, kok jadi belanja?”

Karena pencegahan lebih kuat daripada pengolahan.

Makanan yang tidak jadi sampah tidak perlu dipilah.

Tidak perlu dikomposkan.

Tidak perlu diangkut.

Tidak perlu diproses.

Information gain kedua: strategi residu dimulai sebelum barang menjadi sampah.

Reduce.

Reuse.

Baru recycle dan process.

Kota sering fokus pada mesin karena terlihat besar.

Tapi keputusan belanja jutaan rumah adalah mesin yang lebih besar lagi.

Satu porsi makanan sisa terlihat kecil.

Dikalikan jutaan orang, skala berubah.

Sistem angkut harus ikut berubah

Di RW Andra, warga sudah pilah.

Masalah muncul pagi hari.

Gerobak cuma satu.

Petugas memasukkan semua.

Grup langsung meledak.

“Ngapain kita pilah?”

Ketua RW mengadakan pertemuan.

Petugas menjelaskan.

Mereka belum punya sekat dan jadwal berbeda.

Ini contoh nyata bahwa perubahan perilaku warga tidak bisa berdiri sendiri.

Information gain ketiga: pilah-angkut-olah membutuhkan tiga kata bekerja.

Pilah tanpa angkut terpisah gagal.

Angkut terpisah tanpa fasilitas olah gagal.

Fasilitas olah tanpa material terpilah bekerja lebih berat.

Sistem harus end-to-end.

RW kemudian mencoba jadwal.

Organik setiap hari.

Anorganik dua kali seminggu.

Residu sesuai kebutuhan.

B3 dikumpulkan terjadwal.

Belum sempurna.

Tapi tidak dicampur.

Kepercayaan warga kembali.

Ini alasan pemerintah pada 2026 juga mengedukasi petugas pengangkut agar material yang sudah dipilah tidak kembali tercampur.

Frontline matters.

Petugas bukan sekadar “angkut”.

Mereka node sistem.

Kawasan kantor, mal, hotel, restoran juga harus bergerak

Andra bekerja di gedung besar.

Ia sadar rumah tangga hanya satu sumber.

Kantor.

Hotel.

Restoran.

Pasar.

Mal.

Industri.

Semua menghasilkan sampah.

Pemprov DKI secara eksplisit memasukkan kawasan perkantoran serta HORECA dalam gerakan pemilahan 2026.

Pergub 102/2021 juga sudah mewajibkan pengelolaan sampah pada kawasan dan perusahaan.

Artinya target residu Bantargebang bukan proyek rumah tangga saja.

Kalau rumah warga disiplin tapi mal mengirim tonase campur, sistem tetap berat.

Perusahaan perlu pengurangan sumber.

Food waste management.

Vendor daur ulang.

B3.

E-waste.

Traceability.

Pelaporan.

Gedung Andra mulai mengaudit.

Katering meeting ternyata sumber sisa makanan besar.

Mereka mengubah pemesanan.

Porsi lebih tepat.

RSVP.

Makanan berlebih yang masih layak dikelola melalui jalur aman sesuai prosedur.

Sampah organik turun.

Tidak ada tong baru.

Hanya perencanaan.

Kebijakan besar sering diterjemahkan menjadi keputusan kecil seperti berapa kotak nasi yang dipesan.

Bantargebang bukan tempat sampah tanpa dasar

Selama puluhan tahun, sistem kota bekerja dengan logika:

kumpul,
angkut,
buang.

Warga tidak perlu tahu akhir.

Truk membawa pergi.

Selesai.

Pada 2026, Jakarta menyatakan ingin menggeser ke pilah-angkut-olah.

Perubahan kata terakhir paling penting.

“Olah” berarti nilai material harus dicari sebelum pembuangan akhir.

Bantargebang sedang ditransformasikan ke controlled landfill bertahap.

Open dumping ditargetkan dihentikan.

Fasilitas pengolahan ditingkatkan.

Tetapi kapasitas lahan tetap terbatas.

Maka residu harus turun.

Bantargebang tidak boleh menjadi alasan:

“Kan ada tempatnya.”

Tempat itu punya umur.

Ada warga sekitar.

Ada lindi.

Gas.

Bau.

Truk.

Energi.

Biaya.

Setiap ton yang tidak perlu dikirim adalah tekanan yang hilang.

Information gain keempat: jarak tidak menghapus externality.

Sampah yang jauh tetap ada.

Andra pernah mengunjungi area dekat Bantargebang.

Setelah itu, kata “buang” terasa berbeda.

Tidak ada benda yang benar-benar dibuang keluar sistem bumi.

Ia hanya dipindahkan.

Target “hanya residu” membuat realitas itu lebih jujur.

Teknologi tetap perlu, tapi bukan alasan menunggu

Ada RDF Rorotan.

Ada fasilitas pengolahan.

Ada bank sampah.

Ada komposter.

Ada maggot.

Ada rencana infrastruktur lain.

Warga bisa berpikir:

“Ya sudah, tunggu fasilitas.”

Masalahnya sampah datang setiap hari.

Kebiasaan bisa berubah sekarang.

Kurangi food waste.

Pisahkan organik.

Pisahkan kardus.

Simpan baterai.

Pakai ulang tas.

Bawa tumbler jika masuk akal.

Pilih refill.

Jangan beli barang yang tidak akan dipakai.

Tidak semua tindakan cocok untuk semua orang.

Tidak perlu performative.

Yang penting volume residu nyata turun.

Sistem kota kemudian punya napas.

Teknologi bisa fokus pada bagian yang memang membutuhkan.

Jangan jadikan sustainability sebagai lomba

Andra mulai terlalu serius.

Ia mengomentari semua anggota rumah.

“Itu salah tong.”

“Itu harus dicuci.”

“Kenapa beli sachet?”

Ibunya akhirnya marah.

“Kalau kamu terus begini, semua orang malah males.”

Ia benar.

Perubahan kebiasaan harus sustainable secara sosial.

Tidak ada gunanya satu orang sempurna sementara empat orang lain menyerah.

Mereka membuat sistem mudah.

Label.

Contoh.

Wadah tidak terlalu banyak.

Anorganik tidak dicuci berlebihan, cukup bersih sesuai penerima.

Organik dikeluarkan rutin.

B3 disimpan aman.

Residu kecil.

Kalau ragu, cek.

Tidak ada polisi sampah.

Ada kebiasaan.

Perubahan kota harus cukup ringan untuk dilakukan jutaan orang.

Kalau terlalu rumit, hanya komunitas sangat termotivasi yang bertahan.

Target Jakarta membutuhkan warga biasa.

Karyawan biasa.

Pedagang biasa.

Petugas biasa.

Itu inti skala.

Ada satu risiko kebijakan yang perlu dihindari: mengganti nama tanpa mengganti alur.

Kalau semua sampah campur tiba di TPS lalu disebut “residu”, target hanya berubah secara administratif.

Residu harus menjadi hasil setelah pemilahan dan pengolahan.

Bukan label untuk apa pun yang tidak sempat diurus.

Karena itu pengukuran perlu dilakukan pada beberapa level.

Berapa sampah masuk dari sumber.

Berapa organik dipisahkan.

Berapa anorganik dipulihkan.

Berapa B3 ditangani khusus.

Berapa benar-benar residu.

Kalau hanya mengukur tonase Bantargebang, kita tahu beban akhir tetapi tidak tahu kenapa turun atau naik.

Information gain kelima: target residu membutuhkan mass balance.

Kota perlu tahu ke mana material berpindah.

Kalau tonase Bantargebang turun karena sampah dibuang ilegal, itu bukan keberhasilan.

Kalau turun karena material diolah di fasilitas legal dan terukur, baru ada progress.

Transparansi chain-of-custody sangat penting.

Jakarta juga perlu mencegah satu masalah klasik: “export problem”.

Kawasan komersial bisa saja membayar vendor lalu merasa urusan selesai.

Tapi jika vendor membuang ke lokasi tidak sah di luar kota, sampah hanya berpindah yurisdiksi.

Pergub 102/2021 dan pendekatan monitoring seperti Pesapa Kawan menjadi relevan karena perusahaan perlu bertanggung jawab atas jalur pengelolaan.

Warga pun bisa bertanya pada pengelola apartemen atau kantor.

Vendor siapa.

Fasilitas mana.

Apa yang terjadi pada organik.

Apa yang terjadi pada anorganik.

Tidak semua harus dipublikasikan detail kontraknya.

Tapi arah material seharusnya bisa dijelaskan.

Kebijakan residu juga punya dampak pada desain produk.

Jika banyak kemasan terus berakhir residu karena tidak punya jalur daur ulang, produsen perlu ikut bertanggung jawab melalui pengurangan, redesign, take-back, dan Extended Producer Responsibility.

Warga tidak bisa menyelesaikan kemasan kompleks sendirian.

Sistem perlu bergerak ke hulu sampai produsen.

Jadi “kebiasaan kecil” bukan berarti pemerintah melempar semua tanggung jawab ke rumah.

Warga punya peran.

Kawasan punya peran.

Vendor punya peran.

Produsen punya peran.

Pemerintah punya peran.

Bantargebang adalah titik akhir dari rantai panjang itu.

Kalau semua tanggung jawab berhenti di dapur, target tidak realistis.

Kalau semua tanggung jawab dilempar ke pemerintah, juga tidak realistis.

Skala kota membutuhkan pembagian kerja.

Residu menjadi indikator desain

Setelah sebulan, keluarga Andra melihat tong residu.

Dulu penuh setiap dua hari.

Sekarang lebih lama.

Mereka tidak menghitung kilogram.

Cukup melihat pola.

Organik besar.

Anorganik cukup banyak.

Residu turun.

Andra berkata,

“Berarti berhasil.”

Ibunya menjawab,

“Berarti lumayan.”

Kata “lumayan” lebih sehat.

Tidak perlu klaim besar.

Kota akan tahu keberhasilan sebenarnya dari tonase.

Berapa residu yang masuk fasilitas akhir.

Berapa organik diolah.

Berapa material dipulihkan.

Berapa sampah dicegah.

Data itu harus transparan.

Karena target tanpa pengukuran mudah menjadi slogan.

Jika Bantargebang masih menerima campuran besar setelah kebijakan, perlu dicari di mana sistem gagal.

Rumah?

Pengangkutan?

TPS?

Fasilitas?

Kawasan komersial?

Vendor?

Setiap titik punya data.

Perubahan besar adalah jutaan kebiasaan yang tersambung

Pagi berikutnya Andra membuang sampah.

Tidak ada refleksi filosofis.

Kulit buah ke organik.

Botol ke anorganik.

Tisu kotor ke residu.

Baterai bekas ke kotak B3.

Ia tutup tong.

Pergi kerja.

Itu saja.

Satu rumah tidak akan mengubah Bantargebang.

Tapi kebijakan kota tidak bekerja pada satu rumah.

Ia bekerja pada jutaan tindakan yang sama, diulang setiap hari.

Di rumah.

Kantor.

Pasar.

Restoran.

Hotel.

Mal.

Sekolah.

Kalau semua fraksi punya jalur, residu menyusut.

Kalau residu menyusut, Bantargebang berhenti menjadi satu-satunya jawaban.

Itulah tujuan besarnya.

Bukan membuat warga sibuk dengan sampah.

Justru membuat lebih sedikit sampah yang harus dianggap tidak punya jalan lain.

Jakarta ingin hanya mengirim residu ke Bantargebang.

Kalimat itu terdengar seperti proyek truk dan landfill.

Padahal titik awalnya jauh lebih kecil.

Tangan seseorang yang, selama dua detik, memilih tong yang benar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top